Akhirnya “Papa Mau Jadi Imam Shalat”

Assalamu-Alaikum Wr.Wb

“Ramadhan Tiba, Ramadhan Tiba, Ramadhan Tiba …”

Sorakan demi sorakan tanda bahagia semua kaum muslim tiba. Lantunan ayat suci Al-Qur’an dari pengeras suara beberapa masjid terdengar nyaring dan merdu kesetiap penjuru kampung saat menjelang subuh. Begitulah saat ramadhan tiba, bulan yang penuh ampunan kata kebanyakan orang. Lantunan ayat suci dan pujian kepada Allah kerap kali diperdengarkan. Yang paling seru di kampong halamanku, banyak orang yang berbondong-bondong untuk membangunkan orang-orag untuk sahur. Salah satu cara membangunkan orang yaitu dengan mengelilingi kampong sambil bermain dram band. Sungguh seru – menurutku. Disetiap subuh, kita mendengar suara bising yang sangat keras. Tidak jarang papa dan bunda yang masih tertidur pulas terkejut dengan suara dram band yang lewat depan rumah. Bukannya marah karena mendengar suara yang lumayan bisa menggetarkan rumah, kami malah tertawa mendengarnya sambil memandang satu sama lain.

Moment yang paling unik ketika sahur adalah melihat adik-adikku yang satu masih umur enam tahun dan yang satunya lagi sudah kelas satu SMP bermuka kusut dan terkadang-kadang masih mengantuk. Duduk ber-Enam dimeja makan yang tidak terlalu luas, membuat suasana yang sangat membahagiakan mencuat. Yang paling bahagia ketika ramadhan tiba adalah ibundaku, ia merasa kalau bulan ramadhan-lah yang mempersatukan keluarganya kembali, lengkap dan utuh. Memang jarang menemukan yang seperti ini dibulan-bulan sebelumnya atau sesudah ramadhan. Aku yang sudah mencapai semester tujuh dengan segudang perkuliahan dan Abangku yang sudah mulai bekerja, memang tidak bakalan bela-bela-in pulang ke kampung halaman jika bukan ramadhan. Suara ibunda yang menelfon kami satu per satu sudah dilakukannya ketika dua hari lagi menjelang ramadhan. Ia selalu memancing kami untuk datang dengan masakannya yang sangat lezat ketimbang makanan yang ada di toko-toko.

Shalat shubuh berjama’ah dan melantunkan ayat suci Al-Qur’an memang hal yang sedikit membuat hati menggigil dibuatnya. Karena hanya waktu tersebut yang bisa membuat kita kumpul pada ruang tengah sambil menyaksikan acara salah satu televisi swasta yang membuat gigi kami semua selalu kelihatan. Moment yang membuat kami tertawa lebar sampai terkapar-kapar karena menahan ketawa, sangat  jelas ketika bulan ramdahan tiba. Sesekali keluarga-keluarga yang ada dikampung kami membentuk kelompok untuk membentuk sahur on the road dan baksos (bakti social) panti asuhan. Jarang-jarang kegiatan seperti ini dilakukan di luar ramadhan.

Jika orang bertanya siapa guru terbaikku yang pertama kali mengenalkan abjad, tentu aku menyebut papaku. Saat keluargaku tak punya cukup uang untuk biaya sekolah anak-anaknya, papa tampil paling depan sebagai orang yang paling bertanggung jawab. Selepas magrib beliau mengajarkan adikku yang paling kecil menulis. Mengajarkannya cara megang bolpoint yang benar, mengajarkannya mengeja kata dengan baik hingga mengajarkannya bagaimana membentuk huruf abjad yang bagus. Anak-anaknya termasuk aku selalu diajarkan rapi sedari dulu. Dulu papa memang tak pernah mengajarkan anak-anaknya prosa, sajak, puisi indah atau rima yang menari di setiap tulisan karena kami tahu kalau nilai bahasa Indonesia papa cukup standar. Namun liat sekarang, adikku yang sudah kelas satu smp sudah pintar merangkai kata Yang dibuktikan dengan juara dua yang ia dapat  pada lomba mengarang se-kabupaten.

Selain mengajarkan kami menulis, papa juga mengajarkan kami menggambar. Pada sesi ini, aku yang mewarisi sifat ayahku yang sangat menyukai seni. Hingga sekarang, walaupun aku mengambil jurusan pendidikan fisika, aku tetap menggeluti dunia seni. Karena aku pikir seni ada dimana-mana dan tidak akan pernah habis. Kita bicara-pun mempunyai nilai seni. Ayah paling gagap teknologi, tapi berkat keteladanan my brother, papa sudah bisa mengoperasikan computer bahkan lebih lincah sekarang.

Bulan ramadhan tidak bisa dilepas dari kegiatan Shalat Tarwih + witir, dia adalah satu kesatuan utuh yang tidak bisa dipisahkan. Berbicara masalah shalat, ada yang menarik untuk saya ceritakan. Disela-sela kekagumanku  terhadap sosok papa yang disiplin, dan selalu bertanggung jawab dan berdiri paling depan masalah pendidikan, ada satu pertanyaan yang membelengguku setiap aku pulang ke kampong halaman. Papa jarang sekali mau shalat berjama’ah bersama keluarganya dirumah. Apalagi jika beliau disuruh menjadi imam dalam shalat. Dimulutnya beliau emang tidak pernah membantah, tapi dari tingkahnya dapat dilihat kalau beliau tidak mau jadi iman shalat. Entah itu shalat fardhu , sunnah, bahkan tarwih-pun beliau tidak mau skali-skali jadi imam shalat. Aku tidak habis pikir dengan sikap papaku yang tidak ingin jadi imam, padahal disetiap kesempatan beliau selalu melantunkan ayat suci Al-Qur’an.

***

Beberapa hari ini di bulan ramadhan, musim pancaroba melanda. Suhu dingin yang datang tiba-tiba tanpa hujan dan tanpa angin, membuat keluargaku Nyaman untuk tidur. Hingga suatu malam di hari selasa lalu tepatnya 16 juli 2013, hujan melanda kampungku dengan derasnya. Hingga malam menjelang, hujan masih terus bergemuruh diatas rumah kami. Waktu shalat isya dan tarwih-pun masuk, masjid yang berada lumayan dekat dari rumah kami sudah melantunkan ayat suci Al-Qur’an namun hujan diluar masih belum berhenti.

Ibuku dengan spontan berucap, “Duh hujannya masih deras, Kita shalat Tarwihnya dirumah aja yah… Entar papa yang jadi imamnya” sahut bundaku sambil melirik ke papaku yang hanya tertunduk tanpa respon. Aku hanya diam dan tak menyambung kalimat bunda. Selepas kami selesai ber-wudhu semua, kami siap-siap berganti pakaian shalat, namun ketika diliriknya ke bagian kamar papa dan mama, papanya hilang tak tahu kemana. Adikku yang paling kecil bilang kalau papa sudah kemesjid tadi pakai payung. Sungguh nyesek dadaku kali itu, hingga malam itu Abangku yang menjadi imam kita semua. Aku tidak habis pikir tindakan kekanak-kanakan papaku malam itu. Aku sempat berbincang dengan bundaku di sepertiga malam, tentang apa sebenarnya alasan yang membuat papa seperti itu. Namun bundaku hanya menggeleng.

Pagi harinya, aku temui papaku yang masih asyik dengan lantunan ayat suci Al-Qur’annya, membaca lembar demi lembar hingga sekarang beliau telah mencapai Juz ke-20. Aku menunggunya didepan  hingga ia selesai. Ketika beliau menutup Al-Qur’annya, aku mulai berbicara empat mata dengan papaku. Aku menanyakan kenapa beliau lari ketika disuruh jadi imam dalam shalat.

Papaku meletakkan Al-Qur’annya dimeja sambil tersenyum, “Siapa yang lari, papa cuman mau shalat di masjid”

“bunda yang selalu bilang, kalau papa pulang dari shalat tarwih, papa yang bertingkah seperti orang yang terburu-buru dan paling cepat memulai shalat witir sendirian tanpa menunggu bunda” Aku kembali merespon papa. No respon setelah aku melemparkan pernyataan tersebut. Yang aku liat, papaku hanya tertunduk membisu, “Jadilah pemimpin keluarga yang baik, jangan hanya di dunia saja papa bisa mendidik kami semua hingga menjadi sukses. Tapi bimbing juga kami dalam segi Akhirat supaya lengkap tugas dan kewajibanmu sebagai pemimpin” sahutku pagi itu, aku tak tahu apa yang merasukiku hingga spontan aku memberikan pernyataan seperti itu. Tapi, aku pikir ini adalah kebaikan buat papaku juga.

Kemarin malam, tepatnya hari kamis kami, semua ngumpul diruang tengah. Handponeku tiba-tiba berbunyi tanda sms. Dan itu dari sahabatku Hide yang merupakan seorang mahasiswa photography. Ia ingin mengajakku untuk pergi mengambil gambar bokeh di sudut kota sebagai tugas kuliahnya yang harus dikumpukan minggu depan. Aku mengiyakan permintaannya dan meninggalkan Shalat Tarwihku untuk sementara 😀 . Namun bukan itu yang penting, setelah aku pulang mengambil gambar bersama temanku hide, aku masih mendapati orang-orang yang bershalat tarwih di masjid. Hingga aku sampai dirumah, aku mendengarkan lantunan ayat suci dari kamar tengah yang memang cukup luas. Lantunan ayat suci yang begitu merdu dan kudapati ayahku yang menjadi imam dalam shalat tarwih dirumahku kemarin.

Sungguh bahagia diriku kemarin, Akhirnya ayahku mau juga menjadi imam shalat keluarganya setalah beberapa tahun ini tidak pernah beliau laksanakan. Kali ini, tepatnya pukul 09:00 WITA aku menuliskan kisah yang penuh berkah ini di laptopku, tapi sebelumnya aku dan keluargaku lagi-lagi shalat tarwih berjamaah dengan papaku yang menjadi imam shalatnya. Tidak hanya shalat tarwih, selepas beliau menunaikan kewajibannya sebagai pegawai negeri dikantor, ketika masuk waktu ashar, beliau kembali menyuruh kami untuk shalat berjama’ah dengannya. Sungguh bulan yang benar-benar penuh keajaiban dan mu’jizat yang luar biasa. Hanya satu kalimat yang bisa aku ucapkan dengan kejadian ini “Thank You Allah” engkau lagi-lagi mengabulkan Do’a dari hambamu ini.

Pemimpin Keluarga yang baik adalah Seorang yang bisa memimpin anak dan istrinya kejalan yang benar baik di dunia maupun di Akhirat. Tidak usah jauh-jauh kalau mau traveling di bulan puasa. Traveling bersama dengan keluarga dirumah dan menikmati canda-tawa akan jauh lebih nikmat. Mari petik banyak-banyak hikmah dan raih berkah ramadhanmu setiap harinya. Saya dan malam yang masih terus berlanjut serta kopi hitam yang masih setia menemani saya mengucapkan Selamat menunaikan ibadah puasa.

Wassalamu-Alaikum Wr. Wb

 Tulisan ini menjadi “Tulisan Dengan Pembaca Terbanyak Ke-Tiga” Dalam Lomba Ramadhan burufly.com

Iklan

7 thoughts on “Akhirnya “Papa Mau Jadi Imam Shalat”

  1. Gadis Rasta (@BHC_07) berkata:

    Sungguh banyak berkah dibulan puasa ini, Selamat menjalankan ibadah puasa juga Rhyantd. semoga berkahnya selalu dilimpahkan padamu dan juga keluargamu. Cerita yang sangat menarik. penyampaiannya juga sangat baik hingga membuat orang kepingin teru lanjut untuk membacanya.. Suka blognya.. salam blogger

  2. Dharma Dewi berkata:

    Subhanallah, semoga Allah membuka Hati para pemimpin terutama di rumah tangganya sendiri, bisa menjadi pemimpin dan Imam yang bisa menjadi contoh dan suri tauladan bagi anggota keluarganya.

Komentar akan muncul setelah dimoderasi. Terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s