Penentuan Awal puasa Ramadhan

Assalamu Alaikum wr. wb,

Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas sedikit fakta yang sangat unik dan sudah berlangsung lama di bumi tercinta kita ini. Hampir setiap tahunnya kaum muslimin di seluruh tanah air berdebar-debar dan disibukkan dengan penentuan awal puasa dan hari raya Idul-Fitri. Pemerintah dan berbagai ormas islam setiap tahunnya akan disibukkan dengan penentuan hari ramadhan dan syawal tahun itu dimulai dan berakhir, sementara masyarakat luas yang bertindak sebagai pengikut seringkali dibingungkan dengan pemerintah dan lembaga islam yang mempunyai keputusan yang berbeda-beda. Tidak jarang perbedaan-perbedaan itu menimbulkan sedikit gesekan yang tak seimbang antara lembaga atau ormas-ormas yang mempunyai keyakinan masing-masing. Masing-masing menganggap diri benar dengan lembaga yang diikutinya dan terkadang menyalahkan yang lain tanpa mereka tahu apa sebetulnya yang menjadi suatu landasan penentuan awal dan akhir ramadhan.

Penentuan Puasa

Perbedaan penetapan awal bulan hijriah, tak lepas dari perbedaan metode dari penentuan awal ramadhan yang digunakan oleh kedua belah pihak. Dalam islam, terdapat dua metode yang utama dalam penentuan bulan hijriah, yaitu metode hisab dan metode rukyah. Kedua metode ini, sama-sama didasari oleh Al-Qur’an dan hadist yang menjelaskan tata cara mengawali dan mengakhiri bulan ramadhan. Metode rukyah menggunakan pengamatan langsung dengan mata sementara metode hisab hanya menggunakan hitungan ilmiah yakni rukyah bil-ilmi (pengamatan tak langsung). Dalam setiap metode penentuan, masih menggunakan ilmu hisab dan ilmu falak dalam prosesnya masing-masing. Hanya saja metode rukyah masih memerlukan pengamatan fisik sebagai bukti dan final keputusan sedangkan metode hisab cukup dengan perhitungan ilmiah semata tanpa perlu lagi membuktikan dengan pengamatan fisik.

Upaya untuk menyatukan pendapat ini telah lama dilakukan oleh pemerintah. Akan tetapi kesepakatan tersebut tidak pernah berujung pada satu titik dikarenakan padangan terhadap dalil masih menjadi masalah utama. Seperti yang dikatakan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin yang dikutip dari situs Teraspos ( 7 Juli 2013) yang menyatakan,

“Silakan bagi yang memulai Puasa Ramadan besok (Selasa) insya Allah mendapatkan pahala dan bagi mereka yang mengawali puasa pada Rabu juga Insya Allah mendapat pahala.”

“Perbedaan penentuan awal puasa dan hari lebaran itu terkait perihal fiqh (cara peribadahan) dan tidak menyentuh ranah aqidah. Sehingga sedikit perbedaan pemahaman tersebut seharusnya tidak perlu menjadi hal untuk saling berselisih.” kata Din Syamsuddin seusai menghadiri Konferensi Pers Pimpinan Ormas Lembaga Islam di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, Senin (8/7).

Sangat setuju dengan pendapat beliau. Selama perbedaan ini masih muncul, masyarakat muslim hendaknya tetap menjaga silaturrahmi dalam menanggapinya dan tetap selalu berfikir positif dengan segala yang ada. Saling menghargai dan tetap berpedoman kepada Al-Qur’an dan Hadist Insya Allah semuanya akan membawa berkah bagi kita semua. Islam itu indah, dia ada untuk menyatukan.

Wassalamu Alaikum Wr. Wb,

Logo blog

Referensi Tulisan : Perbedaan Awal Puasa Tak Perlu Diributkan (8 Juli 2013 / 19:25)

See More : http://nasional.teraspos.com/read/2013/07/08/54510/perbedaan-awal-puasa-tak-perlu-diributkan

Picture by Google.com dan di combine by Lelaki Fajar

Iklan

Komentar akan muncul setelah dimoderasi. Terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s