Dirinya & Aroma Hujan

Terlihat dirinya mulai beranjak dari kursi bambu yang masih berwarna kuning terang dengan sedikit ikatan yang menyatukan. Dia berputar dengan kaki telanjang sambil berjinjit dan mengendap-endap. Serasa tak mau membangunkan sang malam yang masih terlelap. Dirinya masih berjinjit dan mengarah kelantai dua yang mempunyai aroma hujan yang dingin. Aroma hujan dengan sensasi bintang yang masih saja menghiasi langit dengan berbagai kerlap-kerlip layaknya lampu kota yang selalu ceria. kerlap-kerlip yang melambangkan nyanyian sang bintang melalui terangnya. Terang yang menandakan bahwa dirinya adalah kitab sang semesta. Dirinya kemudian menghitung dan mengeja bintang untukku. Namun ketika sang fajar mulai menyongsong dan malam mulai mengundurkan diri, nampak dirinya pucat dan tak bersemangat. Fajar tak menghiraukan dan langit tetap meghangatkan dengan menampakkan satu per satu warna alam sang semesta. Dari yang paling suram, hingga yang paling terang. Ya, Hanya untukku.

warm,cup,book,chair,coffee,reading-5b51ede8d185420e9a1ac5b636ef7346_h

Dirinya terkadang hanya melonjorkan kaki panjang-panjang dan bersembunyi dalam sebuah ruangan yang sempit. Berkutat dengan beberapa hal yang serba tak penting. Layaknya sebuah keheningan yang memegang kekuasaan terhadapnya. keheningan yang sangat sepi seperti hanya ombak yang terdengar sayup-sayup dari kejauhan dan entah dimana. Ia sama sekali tak menghiraukan. Seperti lagi membalas dendam dengan sang fajar tadi malam. Ia tak mau mengenal sinar matahari yang masuk disela-sela batu yang begitu menghangatkan. Angin bermain dengan bebasnya sambil sesekali menepis pipi indahnya. Setiap orang menerka tentang jarak ataupun sebuah sensasi perasan, akan terlihat hambar dan tak mengenal sebuah warna. Namun, Ada berjuta rona dan lukisan yang siap digoreskan pada sebuah hati yang masih keras. Ah, Rumit.

Dan, ketika dirinya berada didunia antara, dirinya akan menemui sapaan kamu dan Aku dengan bentangan sebuah permadani besar berwarna kecoklatan yang gelap dan kelam. Sulaman akar pepohonan yang hanya menjulur keluar karena tak mampu menembus sang tanah yang begitu keras. Diatasnya, Terlihat dedauanan yang saling bergesek. Bergesek karena sang angin kembali menjauhkan dedaunan yang kering dari yang basah. Setelah terpisah, dirinya kembali memungut satu per satu daun itu kembali dan berusaha menyatukannya dalam sebuah wadah berwarna hitam. Sebuah wadah yang menampung segelumit kisah yang tak berujung pada suatu titik. Kuhirup kembali aroma hujan setelah rintiknya menyapa. Terlihat kembali dirinya menangis dihadapanku dengan muka tertunduk. Aku pergi dan lebih memilih aroma hujan ketimbang dirinya yang tidak pasti.

Dititik mana Aku dan Dirinya jumpa? Ah, Entahah
Aku dan Dirinya sama sekali masih kosong, sebelum aroma hujan yang berbicara tentang jodoh.
Begitu saja, Selamat menikmati Kopi Hangatmu dengan aroma hujan yang begitu khas 🙂

Iklan

3 thoughts on “Dirinya & Aroma Hujan

Komentar akan muncul setelah dimoderasi. Terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s