Bidadari Duniaku

Jika di surga ada bidadari surga, maka di dunia ada bidadari dunia. Bidadari duniaku adalah seorang wanita yang telah mengenalku sejak hari pertama Aku dilahirkan. Bidadari yang mengurusku ketika sakit dan memelukku ketika mengalami hari yang buruk. Bidadari duniaku  adalah seseorang yang paling menakjubkan yang pernahku temui. Dia tahu apa yang ia inginkan dalam hidup, dan dia tidak takut mengejar tujuan-tujuannya. Bidadari duniaku  adalah Dahria, Lebih dikenal sebagai istri dari bapak Yunus. Dia adalah ibuku.

bidadari duniaku

Ibuku dilahirkan dalam keluarga yang sangat rendah ekonomi. Dia memiliki tiga orang kakak dan empat orang adik. Hidupnya tumbuh tidak begitu indah. Hari-hari yang ia lalui hanya membantu ibunya ketika harus mundur dari sekolah menengah pertama karena urusan ekonomi. Sesekali ia berjalan berpuluh-puluh kilometer hanya untuk mencari uang dengan berjualan daun ubi ke pasar. Karena belum ada angkot, ibuku biasa sampai dirumah ketika magrib menjelang dengan uang seribu ditangannya. Uang seribu itu sangat berharga baginya, hingga seorang pemuda tegap dengan kulit putih berhasil membuat hatinya terjebak. Pemuda itu adalah ayahku.

Bulan Oktober setelah pernikahannya, Ibuku mengikuti ayah ke sebuah pulau karena status ayah sebagai pegawai kontrak telah habis. Waktu itu, aku sudah berumur lima tahun dengan badan gemuk dan pipi yang tembem. Disana, aku dan kakakku memasuki sekolah dasar yang sama. Hidup di daerah itu sungguh miris bagi ibuku. Beribu cobaan menghampiri dirinya kala itu. Mulai orang tua ayah yang tidak menyukainya, sifat ayah yang mendadak keras terhadapnya, ekonomi yang begitu pas-pasan dan hutang piutang dimana-mana. Situasi yang kerap mendapat perlakuan tidak baik dari ayah, membuat ibu kerap kali menangis sendirian. Namun, Ibu tetap menyembunyikan tangisannya dengan gelak tawa ketika kumpul bersama anaknya. Ibu juga tidak pernah menceritakan perlakuan ayah kepada keluarganya.

Ibuku adalah orang yang mengedepankan anak-anaknya. Ia tidak pernah mau mempunyai baju yang bagus jika baju anaknya hanya biasa-biasa saja. Soal makan pun, ibu rela memakan nasi yang dicampur kelapa tua yang sudah digoreng dan memberikan sepotong ayam kepada anaknya. Perjuangan hidup yang dilalui ibuku memang sangat tidak mudah ketika ia harus mengikuti ayah ke daerah itu. Perlakuan ayah yang selalu mengusir ibu ketika marah, membuat para tetangga kerap kali menyuruh ibuku untuk cerai dan pulang ke kampung halaman. Namun ia besikukuh bertahan demi masa depan anak-anaknya. Ia tidak ingin jika anaknya menjadi korban dari buah perceraian mereka.

Masalah ekonomi yang begitu menggerogoti keluargaku, membuat kami selalu berpindah-pindah rumah. Hingga kesabaran kami berbuah hikmah, ayah lolos menjadi pegawai negeri sipil. Kami sangat bahagia saat itu, akhirnya kami akan mencicipi makanan yang enak dan tidak lagi menjadikan nasi yang dicampur kelapa kering sebagai menu sehari-hari. Namun harapan itu kembali tak sejalan dengan kenyataan yang kami hadapi. Kakakku yang duduk dibangku SMA dan aku yang duduk dibangku SMP, membuat ayah dan ibuku kembali pusing dengan keuangan. Apalagi saat itu, ibuku sedang hamil tiga bulan. Ayah semakin berputus asa kala itu. Pertengkaran hebat kembali menyelimuti keluargaku manakala ayah menyuruh ibu untuk menggugurkan kandungannya. Tamparan demi tamparan berbekas dipipi kanan maupun pipi kiri ibuku demi mempertahankan anaknya yang masih dalam kandungan. Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku mendapati ibuku menangis tersedu. Aku memeluknya dengan erat sambil mengusap mutiara yang tak berhenti mengalir dikelopaknya.

Suatu pagi, aku mendengar ucapan ibu dan ayah yang memutuskan mengambil pinjaman di bank untuk membayar hutang piutang dan sekolah aku dan kakakku. Aku sempat berfikir untuk berhenti sekolah waktu itu, lantaran siksaan ekonomi yang begitu hebat menghantam keluargaku. Namun tangan hangat itu kembali merangkulku dengan senyumnya yang takkan bisa kulupakan,

“Jangan putus sekolah, Ibu dan ayah akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyekolahkan kamu. Jangan jadi seperti ibu yang SMP pun tidak lulus, Kamu harus sekolah hingga jenjang yang lebih tinggi”

“Tapi apa bisa bu! Cicilan rumah, motor, bank, dan ditambah lagi sekolahku dan kakak?”

“Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah meridhai. Kita hanya perlu berusaha, sabar dan berdoa. Sisanya, kita serahkan kepada Allah!”

Alhamdulillah, lagi-lagi Allah memberikan kami kemudahan sesudah kesulitan. Ekonomi kami semakin membaik ketika ibu mengambil langkah untuk membuat kios-kios kecil depan rumah. Hutang-piutang lunas terbayarkan, begitupun motor dan rumah. Hati kembali legah, Namun tidak dengan ayahku. Ayahku kembali berbuat ulah dengan uang yang ia punya. Ayah selingkuh dengan seorang biduan karoke yang kebetulan rumahnya hanya berjarak beberapa meter dengan rumahku. Awal kecurigaan ibuku memuncak ketika setiap hari ayah pulang larut malam dan sangat gelisah ketika dirumah. Ia juga mulai meninggalkan kebiasaan mengajinya bahkan shalat lima waktupun sangat jarang.

Ibuku mulai dilanda gelisah, ia menyuruhku menemaninya ketempat perempuan karoke itu mangkal. Betapa tersentaknya aku dan ibuku ketika melihat ayah sedang bercumbu dengan perempuan itu. Aku memukul ayahku dan perempuan itu. Ibu hanya menangis dan meinggalkan tempat perempuan itu. Semenjak kejadian itu, ayah dan ibu tak banyak bicara. Mereka saling diam satu sama lain. Hingga satu minggu ibu menunggu permintaan maaf ayah kepadanya, namun ia tidak mendapatkannya. Aku sangat marah dengan ayah, sungguh tega-teganya ia tidak membicarai ibu padahal ia yang sudah selingkuh. Lagi-lagi aku tercengang ketika malam lepas shalat isyaku, ibu menghampiri ayah dan meminta maaf. Satu pertanyaan yang kulontarkan kepada ibuku,

“Kenapa ibu yang minta maaf! Ayah kan yang salah”

“Meminta Maaf bukanlah yang menandakan siapa yang salah atau benar. Dalam berumah tangga itu, harus saling menyeimbangkan kekurangan yang dimiliki. Menghargai kekurangan pasangan, bisa memperawet rumah tangga. Mungkin ibu juga harus memperbaiki diri. Suatu saat kamu akan mengerti, ketika kamu sudah berumah tangga”

Semenjak itu, hubungan ayah dan ibu semakin erat. Seperti tidak ada lagi goncangan yang menghantam keluargaku. Mungkin karena Allah telah menyadarkan ayah dengan memperlihatkan kekuatan sabar ibuku. Ekonomi kami semakin membaik, tidak ada lagi orang yang setiap hari menagih utang kepada kami. Hidup kami alhamdulillah sudah bercukupan semenjak ayah naik pangkat.

Hari itu tiba, pengumuman seleksi bebas masuk universitas yang sudah kutunggu-tunggu akhirnya keluar. Dari seluruh siswa yang ada disekolah, hanya ada empat orang yang terdaftar, salah satunya diriku. Namun, betapa hancurnya hatiku ketika melihat pengumuman yang terpajang dipapan pengumuman, hanya Namaku yang tidak tercantum. Aku berusaha menutupi kesedihanku ketika dirumah. Aku hanya duduk disamping rumah sambil meluapkan kesedihanku. Tak terasa, air mataku menetes kencang lantaran kekecewaan semakin menggerogoti tubuhku. Lagi-lagi tangan hangatnya memelukku dari belakang,

“Jangan menangis. Rezeki orang berbeda-beda. Mungkin kali ini bukan rezeki kamu sayang. Hentikan tangismu, laki-laki kok cengeng. Yang semangat dong. Hidup tidak boleh berakhir sampai disini. Ibu akan berdoa, semoga anak ibu yang ganteng ini bisa diterima di universitas yang ia inginkan. Yang perlu kamu lakukan sekarang, belajar dan berdoa”

Segala puji bagi Allah, aku lulus di universitas yang kuinginkan dengan program prodi yang sangat mendukung. Kehidupan rumah tangga ibu begitu bahagia, tidak ada lagi kata selingkuh yang singgah dihati ayahku. Mereka saling menyayangi dan mencintai. Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Allah memanggil ayahku lebih dulu karena penyakit yang telah ia bawa sejak lahir. Aku begitu terpukul dengan berita itu. Namun satu yang kuakui dari ibuku, sebelum ayah menghembuskan nafas terakhirnya, ia berucap kepada ayah untuk tidak takut.

“Jangan takut pa! Aku akan berusaha menjaga anak-anak kita dengan sekuat tenaga. Aku tahu kamu capek dengan penyakitmu. Pegilah dengan tenang, Insya Allah aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku dan anak-anak. Kami insya Allah akan baik walau tanpa dirimu sayang”

Ayahku pergi sambil mengucap dua kalimat syahadat hari itu. Hingga ayahku sudah menjadi sekumpulan tanah yang masih basah, Ibuku tetap mencintai ayahku. Baru kutahu, ternyata Ayah adalah cinta pertama dan terakhir ibuku yang dipisahkan oleh Allah.

Alhamdulillah, hari ini aku telah menyandang predikat sarjana strata satu begitupun kakakku. Pesan-pesan ibu selalu kujadikan batu loncatan untuk terus maju. Kini aku bertekad untuk mencari pasangan yang bisa seperti ibuku. Ia adalah istri yang baik bukan hanya untuk ayahku tapi buat kami juga, anak-anaknya. Selalu tabah menghadapi cobaan dalam hidup, Sabar menghadapi sikap kekurangan suaminya, Pemaaf dan berhati lembut, selalu hadir dengan dekapan yang hangat untuk anak-anaknya, Mencintai suami dengan apa adanya dan selalu mendampinginya hingga maut memisahkan serta tangan yang selalu berdoa untuk kehidupan yang lebih baik untuk keluarganya. Dialah wanita terbaik. Dialah bidadari duniaku. Dialah Ibuku.

Tulisan ini menjadi (Pemenang Pertama) Giveaway Istri yang baik  

PPP

Iklan

5 thoughts on “Bidadari Duniaku

  1. rodamemn berkata:

    huwa cerita yang mengaharukan mas, Ibu memang tak tergantikan ya mas, semoga kelak kita anak-anaknya bisa membahagiakan kedua orangtua terutama Ibu ‘bidadari dunia kita’ aamiin ya Allah.

Komentar akan muncul setelah dimoderasi. Terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s