Maaf

Aku kembali mengagumi semesta yang tak bertepi malam ini. Kembali mengagumi secara diam tentang sebuah kekuasaan yang terlimpah ruah. Semesta yang selalu menghadirkan beberapa kisah yang bisa kembali aku torehkan dalam buku usang. Buku yang selama ini mengisi hari-hariku sebagai kawand curhat yang selalu setia mendengar, merasa, dan seakan-akan memberikan solusi kepadaku ketika semuanya menjadi buram.

maaf

Maaf, aku menjauh darimu. Beribu-ribu maaf kembali aku torehkan kepada seorang perempuan berjilbab segitiga yang selama ini tak henti-hentinya memberikan perhatian yang luar biasa meluluh jiwa. Sebuah perhatian yang tadinya untuk seorang sahabat yang perlahan-lahan kau kagumi. Aku tidak mengerti mengapa dirimu memberikan perhatian seperti itu. Jujur, Aku sangat senang dengan segala perhatianmu selama ini. Terlebih jika dirimu memberikanku pesan-pesan singkat yang bernada religius.

Maaf, jika aku tak lagi membalas pesan-pesan singkat yang tak henti-hentinya kau kirimkan melalui ponsel genggammu. Setelah tidak membalas pesan-pesanmu, aku juga tidak mengangkat telfonmu yang bernada lebih cemas. Aku hanya ingin sendiri sekarang. Sendiri bersama waktu, agar bisa memikirkan matang-matang “apakah aku harus memilih untuk menjalaninya bersamamu”.

Maafkan aku jika harus melakukan semua ini padamu, namun terkadang laki-laki juga butuh kesendirian untuk berfikir sebelum melakukan tindakan. Kau juga tahu-kan? Laki-laki itu bertindak lebih dominan fikiran dibanding mengutamakan perasaan, sangat berbeda 100 derajat dengan dirimu. Aku tahu kamu menyayangiku melebihi sayang dari pada dirimu sendiri yang kau tampakkan melalui pesan-pesan singkatmu. Tapi, perhatian-perhatianmu itu sudah diambang batas, dan rasanya aku harus menyudahinya sampai disini. Jika diibaratkan sebuah komponen elektronika, perhatianmu itu layaknya sebuah dioda. Sebuah dioda yang aku takutkan melewati titik ambangnya, dan akan terus melonjak naik secara drastis. Maafkan aku, Karena aku sangat tidak mengharapkan perhatian sampai sejauh ini. Aku hanya ingin sebatas minyak dan air, yang tidak pernah bersatu tapi tetap masih dalam satu wadah bersama. Kau ngerti-kan?

Maafkan aku, jika selama ini, perhatian yang aku berikan kepadamu sudah membuatmu berubah arah dan merasuk kalbu. Separah itu-kah pesan-pesan singkat yang aku kirimkan melalui ponsel genggamku? Jika seperti itu, aku akan mengakhiri pesan-pesan itu. Aku tidak akan mengirimkannya lagi padamu. Aku tidak mau mencintai seseorang layaknya sebuah pegas yang lama-kelamaan akan kendor dengan sendirinya. Sebuah cinta yang memiliki batas, aku tidak mau seperti itu. Kau juga tidak mau-kan?

Aku masih ingat ceritamu mengenai teman sekelasmu yang selalu kau ajak bercanda, tertawa dan melewati masa-masa sulitmu. Seorang laki-laki yang selalu menemanimu mengisi hari hingga lengkungan dibibirmu kembali terlahir sempurna. Aku memperhatikan parasmu tiba-tiba merona bersinar dan merekah layaknya senja yang tak bertepi saat dirimu menceritakannya untukku.

Hei! Sudahlah, aku juga mau layaknya lelaki teman kelasmu yang selalu kau ajak bercanda berdua. Aku lebih suka curhat-curhat konyolmu seperti saat kita berdua duduk diatas angkot, saling membuka rahasia pribadi hingga tertawa lepas dan suara terdengar dalam seisi angkot itu, masih ingat-kan? Aku lebih suka seperti itu, dibandingkan perhatian-perhatian kecil yang kau berikan diponsel genggamku hingga melahirkan perasaan-perasaan kecil yang sama sekali tidak kita inginkan berdua.

***

Sepertinya malam kembali merasuk dengan dinginnya angin malam. Sesedikit gesekan dedaunan membangun nada kepiluan sang malam. Sekarang aku tak menjumpai lagi pesan-pesan singkatmu di ponsel genggamku yang senantiasa aku letakkan diatas meja belajarku. Yang sengaja aku getarkan, agar aku tahu jika pesan singkatmu kembali menambah isi inboxku. Apakah kau sadar dengan sikapku? Mungkinkah? Aku benar-benar minta maaf. Bukannya aku tidak mau membalas pesan singkatmu lagi, Tapi kamu tahu, aku masih ingat dengan suara lelaki yang menelfonmu sambil menanyakan kabarmu. Kabar yang dia tanyakan layaknya seseorang yang merindu. Sebuah kosa kata yang sudah lama aku pahami sebelum aku menginjak sekolah menengah pertama.

Setelah kutanya, ternyata dia adalah kekasihmu. Ah, sudahlah… Aku tambah yakin telah melakukan tindakan yang benar. Tapi kalau boleh jujur, sekarang aku masih merindukan pesan singkatmu; “Sudah Shalat” yang kamu bubuhi dengan tanda titik dua bersambungkan tanda tutup kurung. Sungguh manis menurutku.

Iklan

Komentar akan muncul setelah dimoderasi. Terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s