Menghadirkan Tuhan

Magrib mulai menyapa, dan bayang-bayang senja sedang mengintipku dari atas loteng yang sengaja kuberi seng transparan. Sesekali sinarnya mengusik mataku. Ah, jangan begitu senja aku tidak suka. Senja kembali mengusik mataku serasa ingin mengajakku bermain sambil melihatnya menghilang dengan warna oranyenya. Aku memang suka kamu senja, tapi jangan sekarang yah! Aku lagi merenung sekarang. Merenung depan televisi yang menayangkan beberapa cuplikan-cuplikan yang benar-benar mengiris hati. Cuplikan yang mengisahkan indonesia yang pilu akan kekayaannya yang diambil oleh orang asing hanya gara-gara tak mampu memanfaatkannya. Salah satu kisah tragis yang dimiliki oleh indonesiaku yang membuatnya tetap stay dinegara berkembang. Ah, sudahlah aku tidak mau berlama-lama menikmati kekurangan indonesia. Malam ini adalah malam minggu, malam yang sebahagian orang mungkin memanfaatkannya untuk keluar bersama pasangan dan membuat memori-memori yang bakalan menjadi kenangan buat mereka saat putus nanti #Oups_Sorry haha. Lain lagi dengan anak mami atau papi, pasti lebih mementingkan untuk tetap stay tinggal dirumah untuk mengharapkan kasih sayang yang lebih #Oups_Sorry sengaja haha.

Menghadirkan tuhan

Hidup itu memang perlu dibawa enjoy, laki-laki seperti saya tidak pernah pusing jika malam minggu datang. Tidak seperti laki-laki lainnya yang sibuk menyiapkan uang jajan si pacar untuk malam ini atau bahkan sibuk merangkai kata demi kata demi melakukan suatu ungkapan perasaan. Ah, aku sih boro-boro melakukan itu semua, apalagi sekarang aku lagi sexy, free, and single #Pede haha. Seperti lagu superjunior yang sempat-sempatnya terdengar ditetangga sebelah malam ini. Rupanya ia memilih untuk stay dirumah.

Mari kita lihat, malam ini aku bagusnya kemana? Banyak undangan dari kawand-kawand untuk keluar. Ah, dari pada pusing, mending tetap stay disini dari pada keluar bersama kawand dan menghabiskan malam hanya dengan jalan-jalan dan bercokol bersama. Duduk dan diam, mulai bosan juga sih lama-lama jika tanpa kegiatan yang dilakukan. Aku berpindah tempat, yang tadinya diruang tamu, sekarang didepan televisi yang sedang menyiarkan siaran lucu. Ah, dan pilihan yang tepat untuk malam ini adalah menonton televisi sambil sesekali membalas sms dari kawand yang berisi curhatan tiada akhir.

Nah, kalau ditanya tentang siaran-siaran apa saja yang aku suka! Aku lebih suka bercokol bersama siaran-siaran yang membahas masalah berita dan yang bisa membuatku tertawa lepas sambil guling-guling ataupun siaran yang bercerita mistis dan horor. Kalian tahu, siaran-siaran itu masih berlaku sampai sekarang. Dengan tangan kanan memegang remot dan tangan kiri memegang ponsel genggam, aku kembali menikmati siaran-siaran televisi swasta.

Hei kamu! Iyah kamu yang lagi baca postingan ini, Bosan yah karena pengantarnya teralu panjang? Haha, begitupun diriku. Sedikit lagi yah, jangan bosan dulu! Nanti pasti aku ceritakan bagaimana kronologinya. Ingat! Orang sabar itu disayang sama tuhan. Ah, Kata-kata basi. Senyum donk! Tahu ga’ senyummu itu indah, sedikit lengkungan saja sudah indah apalagi yang full..

Sudah sampai dimana tadi? Ah, aku ingat. Malam minggu itu masih ingin aku lanjutkan dengan menonton televisi, namun kejenuhan menyerang. Jika jenuh sudah menyerang, laptop-lah yang menjadi alasan terakhirku untuk menulis. Sekarang, aku tengah mengetik huruf demi huruf hingga menjadi kalimat yang bisa kalian cerna. Kalian ingin mendengar aku bercerita? Iyah kamu,,, Aduh, siapa lagi yang ku maksud kalau bukan kamu yang sedang membaca postingan ini.

(~_~)

Dengar yah! Sekarang aku akan menceritakan kepada kalian melalui postingan ini tentang sebuah kisah yang real terjadi pada sebuah keluarga kecil. Kisah yang selalu menggunakan ilmu menghadirkan tuhan.

Pada malam yang gelap, bintang-bintang tetap bersinar menemani ibu Dedi yang lagi asyik menggoreng kacang didapur. Kacang goreng untuk dijual guna menghasilkan uang buat kuliah dedi pada semester akhir. Selama ayahnya sudah meninggal, Ibu dan dedi kerja keras guna menghasilkan uang. Terkadang, ibu dedi menghibur diri dengan cara duduk ditempat ayahnya. Tempat dimana biasanya beliau bertengger dengan kacamata minustnya dan Al-Qur’an yang selalu dibaca dengan cara memangku. Sesekali butir-butir berbentuk mutiara jatuh membasahi pipinya yang sudah mulai keriput. Ah, sungguh tidak bisa melihatnya seperti itu. Dedi hanya memalingkan wajah dan pura-pura tidak memperhatikan ibunya. Yang dedi akui dari ibunya, setelah ibunya meneteskan air mata, ia akan kembali ceria seperti tak terjadi apa-apa sebelumnya dan tetap tersenyum didepan anak-anaknya. Seperti seseorang yang meminta kehadiran tuhan untuk selalu menjawab kesabarannya.

Siang itu, saat matahari tampak terik, ibu dedi lagi sibuk menjual di warung kecil miliknya. Melayani pelanggan satu persatu demi mendapatkan keuntungan dari jualannya. Asiknya dedi bercerita dengan ibunya, terdengar suara “BeLi.. Ibu, Beli” suara laki-laki tua bertubuh kurus itu membeli indomie di warungnya. Laki-laki yang merupakan sahabat dari ayah dedi sewaktu masih hidup. Dengan alasan menanyakan kabar setelah ayah dedi meninggal, ia kembali melanjutkan percakapan dengan ibunya. Percakapan itu hanya sebuah percakapan biasa.

Hampir setiap hari lelaki tua itu mengunjugi ibu dan dedi dengan maksud menghibur. Namun, yang membuat Dedi risih, lelaki itu terus-terus datang dan menemani bicara ibunya diteras rumah. Risih dalam artian tanda kutip, risih melihat status ibunya yang sangat sensitive jika diganggu sedikit saja. Entah, mungkin maksud ia hanya menghibur, namun jika memang maksudnya menghibur, mengapa dalam setiap cerita hanya itu-itu terus yang ia ceritakan. Ah, Aneh! Dedi menarik ibunya disuatu malam selepas shalat isyanya dan ia pun memperingatkan ibunya sebagai seorang anak yang berusaha berbakti padanya. Alhamdulillah, ibu dedi mengerti dan mulai menjauh dari lelaki itu. Namun yang parahnya, lelaki itu yang tidak menjauh hingga tetanggaku begitupun istrinya sendiri sudah mulai risih. Tiba pada suatu malam, puncak kecurigaan istrinya membeludak.

Malam itu, ibu dedi tengah asyik membaca Al-Qur’an dan tiba-tiba mati lampu. Keadaan yang gelap gulita dan hanya bercahayakan lilin, laki-laki itu kembali datang kemudian membeli sebuah lilin. Tidak cukup lima menit kemudian, istrinya datang dan memaki-maki ibu dedi. “Hei Janda tidak tahu diri, mau rebut suami orang kau? Dasar janda kurangajar, kau kemanakan suamiku” katanya sambil menunjuk-nunjuk ke ibunya dengan suara yang keras. Suara yang keras yang sempat membuat ramai depan rumahnya.

Dalam keadaan heran dan masih mengenakan mukena’, ibu dedi menjawab dengan tenang “Bapak memang kesini ibu, hanya untuk membeli sebuah lilin dan terus pergi lagi”

Dedi yang melihat tingkah istri lelaki itu mecaci maki ibunya, ingin balik mengutarakan kata-kata kotor kepada istri lelaki itu, namun ditahan oleh ibunya. Selepas istri lelaki itu pergi, dedi yang masih dalam keadaan marah bertanya ke ibunya. “Mengapa ibu diam saja Bu? Mengapa ibu diam saja diperlakukan semena-mena seperti itu didepan orang banyak?

Ibunya tersenyum kecil sambil menjawab pertanyaan anak lelakinya. “Ibu hanya menjahui dan ingin terjaga dari perbuatan tercela. Toh, itu semua juga tidak benar-kan nak. Semuanya tidak benar, kenapa kita harus marah? Hanya buang-buang energi saja. Sempat memang ibu berfikir seperti itu, tapi ibu berusaha menghadirkan perasaan istri bapak tadi kedalam diri ibu. Siapa yang tidak marah jika lelakinya seperti itu, mungkin jika ibu yang berada diposisi itu, ibu juga akan marah”.

Dedi hanya terdiam mendengar ucapan ibundanya yang tidak pernah sekalipun terbesit olehnya. Seketika amarahnya hilang dan kembali memeluk ibunya dengan penuh hangat.

(~_~)

Hei kamu! Iyah kamu yang masih setia membaca postingan ini, kamu tidak bosan dengan ceritaku? Kalau tidak, apa coba kesimpulan yang bisa kamu ambil dari cerita yang aku ceritakan diatas. Sudah memahami apa arti menghadirkan tuhan?

Yang dimaksud dengan menghadirkan tuhan adalah kesadaran akan selalu dalam pengawasan tuhan. Kita hadirkan tuhan dalam kehidupan kita, sebagaimana kita ketahui jikalau tuhan itu adalah maha diatas segala-galanya. Maha mengetahui apa yang kita lakukan baik itu dilakukan diruang tersembunyi dan tanpa siapa-siapa yang melihat.

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; kemudian Dia bersemayam diatas Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk kedalam bumi dan apa yang keluar dari dalamnya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik kesana. Dan dia bersama kamu dimana saja kalian berada. Dan Allah maha periksa atas segala apa yang kamu lakukan.” (Al-Hadiid/57:4)

Seperti halnya ibu dedi yang berusaha menghadirkan tuhan dalam hidupnya. Berusaha menghadirkan perasaan orang lain ketika menjadi korban guna menghindari perbuatan tercela.

Ketika kita hendak mencuri barang orang lain, hadirkanlah perasaan seseorang yang kecurian. Saat hendak mencaci orang lain, hadirkan bagaimana perasaan orang yang kita caci. Saat kita ingin menyindir orang lain, hadirkan perasaan yang akan dimiliki seseorang yang akan kita sindir. Saat kita ingin merampas dan melukai orang lain, hadirkan bagaimana perasaan orang jika kita lukai dan kita rampas haknya. Begitu seterusnya.

Dengan menghadirkan tuhan, maka akan menjadi benteng untuk perbuatan-perbuatan tercela agar tidak mampir dalam perjalanan hidup kita. Sama halnya yang memiliki jabatan diatas, jangan pernah menindas orang yang dibawah. Jangan mentang-mentang mempunyai mobil dan ketika jalan diatas genangan air seenaknya saja tanpa memperhatikan pengendara motor ataupun pejalan kaki yang berada tepat disamping mobil yang kita kendarai. Bagaimana jika kita berada di posisi orang yang menaiki motor atau si pejalan kaki kemudian kita terkena cipratan air dari sebuah mobil yang melaju pesat. Pikirkan dan Hadirkan Tuhan!

Iklan

4 thoughts on “Menghadirkan Tuhan

Komentar akan muncul setelah dimoderasi. Terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s