MUngkin, Beginilah KIta

Dulu, aku pernah disana. Pernah duduk dan menemaninya melihat senja tentang arti sebuah keindahan. Senja seperti apa yang seharusnya kita dapatkan dan seperti apa harusnya kita, agar kita bisa sama-sama saling belajar. Aku pernah menemaninya. Menemaninya untuk mempelajari sebuah memori dan apa arti hidup yang sama-sama kita lalui, walaupun didalamnya terkadang ada luka dan sedikit air mata. Walaupun, aku belum bisa menjadi seorang guru yang baik, tapi minimal aku telah mengajarkannya “Sedikit” tentang cinta, memori, dan tuhan. Meskipun terkadang menurutnya tak benar-benar berguna.

mungkin beginiah kita

Aku pernah disana. Masih setia duduk disampingnya sambil memandangi senja tentang arti sebuah perpisahan. Tanganku serasa kau genggam dengan eratnya, layaknya sebuah peringatan agar tidak meninggalkanmu. Meninggalkan sebuah kebiasaan lama yang terkadang mengantarkan kita melihat sisi lain dari sebuah kesedihan yang terbalut sepi.

Sebuah hobby yang sedikit mengajarkannya sebuah kesedihan. Kebiasaan baru yang mengajaknya membuat kata “meninggalkan” sedikit melekat padanya. Pergi Meninggalkanku dengan sisa-sisa kenangan manis yang penuh luka. Kecewa, dan sedikit tersenyum sakit kepada diri sendiri, karena ternyata dia lebih memilih pergi dan ikut dengan kata “meninggalkan”. Ah, Aku tidak mau mengikuti kata “meninggalkan”. Aku memilih untuk tetap disini bersama senja dan rintik yang perlahan jatuh membasahi sehelai rambutku. Bertahan pada pijakan yang sama, meskipun kita sudah tidak bisa lagi saling bersua.  Ini Menyekitkan.

Aku pernah disana, tapi kini, tak lagi setia mendampinginya melihat senja yang bercerita tentang kehilangan. Setelah ia lebih memilih melihat rembulan yang membuatnya mengikuti kata “Meninggalkan”. Aku masih bertahan untuk berjalan sendiri mengungkap ada apa dibalik senja yang tak nampak itu. Ia menghilang tanpa memberikan beberapa kalimat yang fasih.

Ah, sungguh tidak sopan. Dan, Aku hanya bisa mengucapkan sebuah lirih “Mungkin, beginilah seharunya kita. Saling mengikuti kata hati masing-masing untuk bisa menikmati keindahan yang ingin kita nikmati sebelumnya. Sayangku, Jangan pernah lagi menemaniku untuk melihat senja yang sedang santai melirikku disini. Karena aku akan tetap memilih senja”

Ah sebuah lirih lagi, “kita tidak sama, dan tidak akan pernah bersama”. Sungguh, ini adalah sebuah titik yang ternoda oleh tanda koma.

Iklan

Komentar akan muncul setelah dimoderasi. Terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s