Sebut Saja Namanya Lisa

Kicauan burung tak henti-hentinya bercengkrama di atas pepohonan rindang, disamping rumahku. Rumahku sedikit ditumbuhi lumut hijau, sehabis hujan yang membasahinya tadi malam. Meremang-remang sang kemuning yang perlahan-lahan mulai menembus sang kaca, hingga menerpa muka yang masih kusut. Aku tersenyum, senyum yang kembali membuat jantung berdebar-debar. Aku tidak tahu kenapa seperti ini, namun disela-sela debaran itu, ternyata aku menyimpan sebuah nama. Ah, Aku jatuh cinta lagi dengan sosokmu yang kuintip dibeberapa susunan batu bata, ketika hujan sedang turun dengan syahdunya. Kutatap dan kutatap, akhirnya kusadari jika Aku sedang jatuh hati pada seorang perempuan yang sudah memiliki sang pujangga hati.

sebut saja namanya lisaPernah mengalami yang seperti ini? Aku pernah! Merasa dan merasa ingin di cintai dengan seseorang yang sudah mempunyai seorang kekasih. Jangan tertawa donk, aku jadi malu melanjutkan cerita ini.

Kemarin, aku kembali bercengkrama dengan pagi yang sibuk. Sebagai mahasiswa, bangun pagi dan tugas menumpuk sudah menjadi kebiasaan harian yang mau tidak mau patut untuk di jalani. Sampai sekarang, Aku masih heran dengan dosen-dosen yang mengajar mata kuliah inti, heran dengan cara memberikan tugas yang langsung membuat drop batin. Terkadang stress dan terkadang jadi linglung sendiri jika harus berhadapan dengan segelumit soal yang menanti untuk deadline esok harinya.

Masih dengan suasana kampus yang sibuk, aku kembali melihat hujan, hujan yang membuat kebanyakan orang drop dan tidak bisa melakukan apa-apa, hanya bertengger dibawah gedung yang mulai lusuh dengan bermacam-macam ekspresi muka. Tapi tidak denganku, jika kebanyakan orang jengkel dengan hujan, aku malah kembali memahami hujan sebagai pembawa kenangan yang manis. Hujan dengan rintik demi rintik yang ia turunkan dengan cantiknya, serasa memancingku untuk membawanya masuk kebeberapa memori yang sudah tersimpan rapat.

Termasuk memori dengan perempuan cantik yang sebut saja namanya lisa. Seorang perempuan yang kembali memberikan warna dalam hari-hariku. Membuatku rajin ngampus, bahkan mengerjakan segelumit soal yang tak kupahami sebelumnya hanya untuk di jadikan alasan buat bertemu dengannya. Ah, mungkin itu yang orang-orang sebut dengan menggebu-gebu dalam cinta.

Hei, kamu! Iyah kamu yang sedang membaca postingan ini, pernahkah dirimu merasakan cinta kepada seseorang yang sebenarnya seseorang tersebut tak pernah mengetahui cinta dari pada dirimu? Ugh, inilah yang membuatku terperangkap beberapa hari ini. Terperangkap dengan cinta yang diam. Cinta yang membawaku kebeberapa kisah yang selalu saja ingin ku torehkan ke dalam buku usang, memakai tinta hitamku. Sebuah kisah yang diriku juga tak pernah mengerti, kenapa aku bisa mendapatkan cinta yang seperti ini.

Belum lagi bergelumit dengan cinta yang diam dengan segala seni yang ia torehkan, aku kembali dihadapkan oleh kenyataan yang memang tidak bisa kuhindari jika ia telah memiliki sang pujangga yang mau tidak mau harus kusebut sebagai sahabatku sendiri. Ah, kenapa cerita ini semakin rumit!

Jujur, beberapa hari ini aku selalu memperhatikannya dari jauh, diam-diam memujinya dalam diamku yang selalu kusimpan rapi di dalam hati. Diam-diam mengambil gambarnya dan menyimpan di album foto sang pemuja, agar bisa kupandangi setiap malam. Ah, sungguh ironis. Ingin sekali kumemujimu saat dirimu mengenakan jilbab. “Cantik” inginku berkata seperti itu ketika di depanmu. Lengkukan demi lengkungan yang kamu buat di jilbabmu, entah mau model seperti apa, aku tetap mengagumimu dengan kata “Indah”. Kata diatas cantik yang tidak akan pernah mati dan terpudar akan waktu. Ingin rasanya menggenggam tanganmu yang lembut, berjalan di beberapa taman yang sama-sama kita kagumi berdua.

Kau tahu sahabat, ketika kamu mengungkapkan isi hatimu ke lisa dan menceritakan kenangan indahmu berdua kepadaku, aku seperti terbakar layaknya setan yang di bacakan ayat suci. Terbakar oleh ungkapan perasaan yang tak sempat kukatakan. Ah, sudahlah. Mungkin cinta diam sudah betah berlama-lama didalam hati.

*****

Sungguh bukan perkara mudah ketika harus berpura-pura tak memiliki perasaan apapun terhadap orang yang diam-diam kalian sukai. Orang yang diam-diam dari kemarin kalian perhatikan namun bener-bener malu untuk mengungkapkan semuanya. Jika dibalik, memendam cinta itu merupakan pekerjaan yang sederhana dimana rasa sakit hatinya yang super luar biasa.

Cinta yang diam itu memiliki cara tersendiri yang membuat kita betah berlama-lama untuk tetap berpegang dengannya. Kalau memang cinta yang diam lebih baik, maka jalani saja cinta yang diam itu, karena tidak selamanya cinta yang diam itu hanya berdiam disatu titik. Adakalanya nanti cinta yang diam itu membawamu pada satu titik yang membuatmu menggapai sebuah kebahagian.

Barangkali.

 

Iklan

8 thoughts on “Sebut Saja Namanya Lisa

  1. Samsuardi H berkata:

    Idih,, Cerita loe bang =_= #Keren 2 jempol untukmu bang.. Terkadang memang cinta butuh proses untuk mengenal kita 🙂

Komentar akan muncul setelah dimoderasi. Terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s