Ketiadaan Yang Kembali Pada Ketiadaan

Hidup itu bagaikan sebuah Layang-layang. Ketika Angin bertaburan datang, ia terbang memecah awan dan melayang tanpa beban. Namun ketika talinya terputus, ia akan hanyut dibawa angin dan pasrah kepada lautan takdir.

ACV

Apa yang kalian fikirkan setelah membaca judul serta sedikit potongan kalimat yang terdapat pada celoteh yang akan saya sampaikan?

Apa yang kalian ketahui tentang kematian? Kematian itu adalah proses bergantinya dunia yang tidak kekal menjadi kekal. Setuju? Ah, masa hanya itu pengertiannya, Mari saya jabarkan sedikit mengenai kematian.

Sebelum saya membahas lebih jauh tentang kematian menurut versi saya, saya bakalan memberikan sedikit alur pendahuluan dulu. Kemarin, tepatnya tanggal 1 November 2012, saya dan ibu pulang ke kampung halaman kami yang terletak di sebuah pulau yang terkenal di abab terdahulu sebagai salah satu tempat jalur produksi rempah-rempah internasional yaitu Maluku.

Bukan liburan yang akan saya ceritakan disini, tapi lebih kepada kejadian yang terjadi diatas pesawat. Ibuku itu, jika pulang kampung yang kemarin-kemarin menggunakan kapal laut, dan untuk pertama kalinya beliau menggunakan pesawat terbang.

Diatas pesawat, saya duduk berdampingan dengannya. Mulai dari suara bising saat pesawat lepas landas, yang katanya membuat telinga seperti ingin tuli, hingga sampai menggapai awan dan rumah-rumah dibawah terlihat seperti tumpukan sampah. Lagi asyiknya ibuku meminum minuman yang diantar oleh pramugari cantik, tiba-tiba pesawat berguncang hebat. Semuanya berteriak histeris. Saya juga mulai ketakutan waktu itu, apalagi ibuku yang sudah gemetar dan terlihat dari wajahnya menampakkan kata pasrah membayangkan pesawat yang akan jatuh dan meledak tiba-tiba. Syukur, itu hanya berlangsung beberapa menit dan kemudian pesawat tenang kembali. Aku memegang pundak ibuku yang masih menutup matanya sambil terus menyebut asma Allah.

Kejadian itu, memang sangat memicu kata pasrah untuk muncul. Kata pasrah kepada kematian yang bisa saja menerkam kita kapan saja. Ah, mengerikan. Yah, memang! Kita tidak mempuyai kuasa apapun ataupun hak sekalipun untuk menentukan kronologi kematian kita nanti. Semua orang pasti akan menghadapi yang namanya kematian, karena tidak ada orang yang abadi kecuali sang maha cipta. Semua orang pasti akan berakhir dalam suatu lubang yang tertutup oleh tanah.

Kematian tidak bisa kita duga. Kematian bisa datang kapan saja. Istilah kerennya “Semau Gue”. Ah, Susah. Tidak selamanya orang yang pertamakali menghadapi kematian adalah orang-orang yang sakit, karena kebanyakan yang sakit masih bisa disembuhkan. Dan, tidak selamanya yang sehat bakalan terakhir menghadapi kematian, karena dimana dan kapanpun malaikat bisa mencabut nyawa kita walaupun kita bersembunyi ditempat persembunyiaan yang tak ada orang mengetahui.

Apa yang akan kamu lakukan, ketika lagi asik membaca postingan ini kemudian malaikat datang dan ingin mengambil nyawamu? Apakah kamu akan lari atau bernegosiasi?. Apa yang akan kamu lakukan, ketika lagi asik bermain dipantai kemudian ketika berbalik badan, tsunami sudah ada didepan mata? Apa yang akan kamu lakukan? Pasrah!. Ah, hanya itu yang bisa kita lakukan. Meminta bantuan kepada satu kata “Pasrah”.

Kalau begitu, kita bisa mengartikan jika kematian itu adalah proses kepasrahan seseorang. Proses yang memperlihatkan secara terang-terangan kalau kita bisa tak berdaya walaupun kita berlimpahan harta. Karena kematian tidak bisa disogok untuk menunda. Ah, sepertinya begitu dan memang seperti itu. Kematian sekali lagi membuktikan jika kita tidak bisa melakukan tawar-menawar dengan jangka waktu kadaluarsa kita dibumi. Karena kita memang bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa serta sangat lemah.

Ibaratnya, manusia itu seperti ketiadaan yang kembali pada ketiadaan. Apa arti ketiadaan disini? Ketiadaan yang dimaksud adalah jika kita bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Kita lahir dimuka bumi karena Sang maha kuasa yang mengizinkan dan kita kembali juga karena-Nya.

Tapi pernahkah dirimu merasa tidak berdaya ketika sedang mempunyai uang yang sangat banyak. Mempunyai segala hal yang dimiliki, mau apa-apa tinggal bilang dan barang itu akan ada didepan mata?

Ah, ironis memang! Ketidakberdayaan hanya datang disaat kita ingin berhadapan dengan kematian. Ketidakberdayaan hanya akan datang saat usia kita sudah mau memasuki waktu kadaluarsa. Ah, ternyata dirmu (kematian) hanya diingat ketika di masjid-masjid.

Kematian bukan seperti status jomblo yang merupakan pilihan. Kematian itu sudah pasti dan sudah ada surat perintah tuhan kepada malaikat kapan kalian akan dijemput. Mari ingat kematian dimana saja! Karena dengan mengingat kematian, kita akan membuat kata pasrah (Kepada Allah) sebagai nafas dalam menjalani hidup. Ah, Semoga.

Tulisan Ini menjadi Juara Pertama Artikel Keislaman

Iklan

3 thoughts on “Ketiadaan Yang Kembali Pada Ketiadaan

Komentar akan muncul setelah dimoderasi. Terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s