JUST IT

just it

Siang ini saya lagi duduk tersudut sambil dua tangan yang menjadi sandaran kepala untuk kembali berfikir tentang masalah yang itu dan itu lagi. Jujur, saya sudah bosan dengan ocehan-ocehan mereka diluaran sana. Saya ingin berteriak – “Hei, This is my life – kenapa harus kalian masukkan kedalam ranah pemikiran yang tidak berguna”. Jika lagi tersudut seperti ini, saya kembali mengingat dirinya. Ingin rasanya bercokol bersamamu sambil meminjam sebuah bahu yang kuat itu untuk melepas lelahnya hidup walau hanya sejenak. Saya bosan dengan hidup yang begini dan begini saja.

Kemana kehidupan yang sudah saya rancang sebelumnya?

Kenapa kamu harus menghilang dan meninggalkan rancangan hidupku begitu saja. Dirimu sungguh egois!

Hari ini kembali terulang, terulang masalah pernyataan “Ayolah nak, Lanjutkan S2-mu!”. Kenapa bujukan itu kembali terulang dimulutnya dengan muka yang ingin sekali dikasihani. Kemarin, semangat untuk melanjutkan studi menggebu-gebu didalam dada dengan membara-baranya. Entah kenapa, semangat itu hilang dengan sebuah pikiran dan alasan yang selalu terputar didalam rona kehidupan yang selalu membuatku tersudut. Terkadang rasa ragu itu kembali menguasai hati yang sudah mulai terbujuk. Namun, kenapa rasa ragu itu selalu menang?

Kemarin, aku sempat disana, menjabat sebuah posisi penting dalam sebuah perusahaan. Bertanggung jawab dengan penuh ketulusan namun kembali disalah artikan. Lima bulan yang lalu saya ingin sekali menuliskan postingan ini dengan embel-embel yang sudah terperangkap didalam dada dan ingin sekali ditumpahkan. Sekarang, saya sangat kesal dengan “Hidup”. Mengapa dan mengapa terus terlontar dibibir saya. Inikah jalan untuk kembali menguji saya?

Saya berusaha mempertahankan posisi itu namun terhalang oleh mereka. Yah! Mereka yang iri terhadapku dan ingin mengambil posisi itu tanpa ingin melakukan usaha yang maksimal. Ada apa dengan saya hari ini? Apakah saya sekarang merasa marah karena perlakuan mereka terhadapku? Aku tidak tahu harus menjawab apa, seketika mulutku menjadi beku dan dingin. Hanya tangan ini yang berusaha mengetik huruf demi huruf hingga terangkai menjadi sebuah kalimat yang berusha diabaikan. Kamu harus mengerti kalau aku sekarang lagi tersiksa dengan gesekan hidup yang baru-baru ini terputus dan menggoyahkan semangatku. Please let me Go!

Izinkan saya menjadi sesuatu yang baru. Izinkan saya membuktikan kepada mereka bahwa saya bisa melebihi mereka. Diri mereka belum tentu selalu diatas bergelantungan seperti itu, suatu saat dia akan terjatuh karena talinya terputus. Di saat itu, dia akan merasakan bagaimana berada pada posisi yang saya rasakan saat ini. Please, jangan campuri urusan saya, biarkan saya menjalaninya dengan usaha saya sendiri tanpa ikut campur tangan kalian yang saya tahu jika semua itu mengharapkan imbalan yang sepadan. Saya takut, jika saya menerima semua itu, saya tidak bisa memberikan yang sepadan dengan yang engkau berikan.

Kadang, hidup ini bukanlah siklus, tapi lebih mirip lingkaran setan. Ke mana pun kita pergi, ujungnya selalu sama – yaitu tak berujung. Semuanya membuat kita lelah. Anehnya, ketika berusaha untuk keluar dari kondisi itu, malah terbentur tembok lainnya. Seolah-olah benang yang kusut itu sudah terlanjur ditarik dan simpul-simpulnya merapat, mengecil, lalu menguat. Seperti itulah rasanya jika semuanya selalu begini. Sehingga yg kita pengen cuma teriak & bertanya kepada hidup..
” Mengapa Begini Ya Allah ? “

Just it!

Iklan

One thought on “JUST IT

Komentar akan muncul setelah dimoderasi. Terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s