Akankah? Sepertinya!

Perasaan itu datang lagi, setelah sekian lama tidak pernah mengalaminya. Dirimu datang lagi, dengan sejuta pesona dan tawaran sebuah hubungan terlarang padaku. Entah apa yang ada didalam benakmu saat ini, bukankah dirimu pernah mengatakan jika hubungan kita ini adalah salah, dan tidak akan pernah bisa menjadi benar. Hubungan yang terhalang karena sebuah kesamaan yang musti dibedakan. Sebuah kesamaan yang tidak akan pernah indah, jika tak bisa dipisahkan.

Akankah

Aku masih mengingat memory itu, Memory saat dirimu masih malu-malu mengungkapkan jika perasaan itu ada terhadapmu. Aku sangat memaklumi itu. Apalagi, aku cukup mengagumi sosokmu yang begitu bijak menanggapi segala sesuatu. Dan, tepat saat malam kamis lepas shalat isya, kamu memberanikan diri untuk membuat kesalahan terhadapku. Kesalahan yang membuat diriku merasa aneh terhadapmu, tapi sama sekali tak kusangka jika kesalahan itu adalah sebuah pengakuan yang sangat besar.

Hingga, tiba saat senja menggeser di peraduannya. Pesan singkat yang kuterima dari ponsel genggam, membuatku tegap berdiri sambil bersiap-siap. Dirimu mengatakan jika pertemuan itu adalah pertemuan antara teman dan teman. Aku melangkahkan kaki menuju tempat yang kau katakan, dan yang kutemukan hanya perasaan kaget yang berkepanjangan. Aku hanya melihatmu disana, aku tidak melihat siapa-siapa selain kita berdua. Kemana orang-orang yang dirimu katakan sebelumnya, sampai akhirnya aku tahu, jika dirimu menyiapkan itu semua untukku. Dan, perasaan yang kurasakan selama ini terhadapmu akhirnya terjawab juga. Ternyata kita memiliki perasaan yang sama. Namun, haruskah kita meneruskan perasaan ini yang jelas-jelas kedepannya adalah hal yang begitu dilarang. Aku tidak tahu harus melakukan apa, tanganmu menggenggam erat tanganku sembari kepala yang terus bersandar di pundak. Pundak yang berusaha menerima semua kesalahan akan cinta yang tak mempunyai ujung.

Dan, Waktu kemudian bermain dengan kita. Waktu tega memisahkan kita tanpa bisa saling memandang, dan hanya bisa terhubung melalui via suara. Rahasia kita berdua terus kugenggam erat-erat dan tidak akan bocor kemana-mana. Sama saja, ini adalah aib bagi diriku juga. Sekarang, setelah semuanya berakhir dengan jalan yang baik. Aku kembali tersentak mendapat pemberitahuan ulang tahunmu untuk kedua kalinya di ponsel genggamku. Awalnya, aku mengucapkan kata itu dengan biasa-biasa saja, dan akhirnya kejadian ini kembali bermain dengan semuanya. Dirimu rela meninggalkan pulau itu hanya demi melihatku sejenak. Inikah yang namanya rindu?

Akhirnya, Kita duduk berdua dalam sebuah meja panjang berwarna coklat malam ini. Hanya kita berdua tanpa sepasang matapun yang memandang dan menghalangi kita. Senyumku lahir pertama kemudian senyummu lahir dengan begitu lebarnya. Kita tertawa. Tawa yang begitu khas dan sama-sama dirindukan. Akankah kita melanjutikan sebuah cinta yang dilarang itu malam ini?

Akankah? Sepertinya!

Iklan

4 thoughts on “Akankah? Sepertinya!

    • Penceloteh berkata:

      Saya setuju akan hal itu, tapi kasus yang saya ceritakan adalah hal yang berbeda. Sebuah cinta yang seharusnya mencari perbedaan agar bisa disatukan.. Kamu paham kan? sepertinya tidak! hehehe

Komentar akan muncul setelah dimoderasi. Terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s