Aku Mencari Bapak

Aku mencari bapak. Bapak yang bisa kuajak Bereksplorasi dan bercokol dimana saja. Bapak yang bisa kuajak bergandengan-tangan ketika semua orang memberikanku ucapan selamat. Bapak yang bisa menenangkan, ketika cibiran-cibiran datang kepadaku. Bapak yang bisa membuatku aman dengan pelukannya. Bapak yang selalu memberiku matahari, ketika sebuah musim dingin datang. Bapak yang bisa mendekapku dalam kehangatan suatu malam. 

Aku mencari bapak

Lalu Dirimu muncul di hadapanku, dengan senyuman yang begitu khas kurindukan. Senyuman yang selalu membuatku kuat, dengan segala macam problema yang menerjang. Dirimu menjabat tanganku, Mengalirkan kehangatan dalam darahku. Kehangatan yang pernah kurasakan saat dirimu memelukku dari belakang. Kehangatan yang sama, ketika dirimu mengusap punggungku. Ingin rasanya aku memelukmu, mencari lebih banyak lagi kehangatan, yang mungkin kau berikan sekedar jabat tangan atau usapan pada punggungku. Bapak, malam ini terlalu sunyi dan panjang jika aku melaluinya sendiri. Tidakkah kamu kasihan denganku yang menjalani hari-hari dengan waktu yang begitu terasa lama?. Aku membutuhkan genggaman tanganmu, bapak.

Kurasakan waktu berdetik begitu lama. Langkah kaki yang serasa ingin terjatuh. Berat, dan Dingin kurasa. Malam yang dulunya selalu ada kehangatan khas candamu, kini terasa lebih jauh dan menggigil dari tahun-tahun sebelumnya. Hari yang dulunya selalu membawa keceriaan seisi rumah, kini berganti membawa kemurungan dan rasa sakit yang luar biasa akan kerinduan sosokmu. Kini, Aku terkubur dengan mimpi-mimpi tentangmu, bapak.

Satu malam aku kembali bertemu dengannya disebuah kebun tua yang entah milik siapa. Kebun Tua dengan tanaman anggur putih yang begitu berlimpah-ruah. Aku ingat, Bapakku memetikkan beberapa buah anggur padaku. Anggurnya manis, semanis senyuman bapakku yang duduk disampingku. Iseng-iseng, aku bertanya padanya. Bagaimana rasanya mati. Ia tak menjawab, bahkan membalas tatapanku saja tidak. Bulir-bulir air matanya mengalir perlahan dan berubah kerap. Ia tergugu. Memelukku. Tergugu seperti anak kecil dimarahi karena lalaikan perintah ibu. “sesungguhnya aku tak ingin pergi meninggalkanmu, anakku. Maafkan aku, membuatmu sendiri”.

Aku tertegun dalam pelukannya. Bapak tahu, itu merupakan pelukan paling terhangat yang pernah engkau beri. Pelukan yang tidak pernah engkau lakukan ketika masih hidup, entah kamu malu atau tak pintar menunjukkan bahwa kamu benar-benar cinta. Aku juga sungguh bodoh tak pernah menyadari cinta yang kamu sembunyikan bertahun-tahun. Cinta yang terkadang kamu lepaskan melalui kata-kata, entah itu peraturan atau peringatan yang selalu engkau beri setiap kita duduk berdua. Bapak, Aku ingin sekali duduk berdua denganmu kembali. Merasakan secangkir kopi buatanmu diruang tengah tempat kita berbagi dan saling bercerita apa saja yang menurut kita tak penting. Bapak, Apakah kau mendengarku? Aku ingin mendengar kembali beberapa nasehatmu ketika aku berbuat salah. Aku kangen akan hukuman-hukuman yang kamu beri.

Bapak, Aku masih ingat saat engkau menelponku dengan suara lantangmu. Suara yang sebenarnya tidak tegas namun tetap membuatku takut. Engkau terus mengingatkanku untuk tidak meninggalkan shalat. Selalu menanyakan kabar perjalanan pendidikanku dalam menggapai gelar sarjana melalui ponsel genggammu. Aku masih ingat dengan beberapa memori terakhir kita sebelum engkau pergi. Memori yang kita ciptakan berdua, disebuah gedung tempatmu melakukan pelatihan. Di gedung itu, engkau membuatku tersentak. Tersentak karena engkau memanggilku dengan sebutan “Nak”. Sebutan yang tidak pernah engkau keluarkan selama bertahun-tahun. Biasanya engkau hanya memanggil nama panggilan keseharianku layaknya teman-temanku diluar sana. Bapak, Aku sungguh ingin mendengar sebutan itu sekali lagi. Sebutan yang membuatku tersenyum lebar karena mendengar panggilan itu, Mungkin kamu tidak tahu.

Bapak, Aku kangen dengan semua itu.

Tidak-kah dirimu Juga?

Tulisan Ini menjadi Pemenang Kedua Kompetisi Blog
“Catatan Untuk Penghuni Surga”

Iklan

6 thoughts on “Aku Mencari Bapak

Komentar akan muncul setelah dimoderasi. Terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s