Si Kumis

Kemarin adalah hari paling bahagia yang kurasakan kembali dalam hidupku. Entah ini terkesan konyol atau tidak, yang jelas, izinkan saya mengatakan “Bahagia”. Sore itu, saya menghabiskan percakapan konyol dengannya melalui via suara. Saya kembali mendengar suara khasnya, dan membayangkan jika senyum simpul manis hingga gigi putih itu terlihat jelas kembali terukir. Ia adalah si Kumis – sapaan yang saya berikan agar menutupi sedikit identitasnya sebagai cinta terlarangku.

Si Kumis

Banyak orang yang penasaran dengannya, terlebih sahabat dekat yang sama sekali tidak bisa kusebut namanya satu per satu. Sangat sulit mengungkapkannya, karena sudah pasti mereka akan tertawa keras ketika mengetahuinya. Jadi, aku memutuskan untuk menutup identitasnya rapat-rapat. Hanya aku dan penyandang sebutan si kumis itu yang mengetahuinya. Mungkin lebih baik seperti itu, akan lebih indah jika hanya aku dan dia yang tahu. Saya menghabiskan waktu sekitar dua jam dengannya melalui via suara – ini termasuk gila-kan Haha. But, ini adalah sesuatu yang wajar, karena pertemuan itu baru saja datang, dan banyak yang ingin aku dan dia lampiaskan bersama. Rindu – misalnya.

Sehabis melepas rindu melalui via suara, rupa-rupanya hujan turun dengan rintik-rintik cantiknya. Batu bata mulai basah dan melengkapi keindahan sang rembulan malam itu. Dan, notifikasi BBM saya berbunyi. Kudapati pesan untuk dinner bersama – hanya aku dan dia. Aku membuat senyum lebar di bibirku, apakah ini bahagia dan wajar? Entahlah. Lalu, senyumku perlahan-lahan hilang, sederet jadwal malam itu yang super sibuk kembali masuk dengan santainya tanpa melakukan permisi. Pekerjaan adalah pekerjaan, so jalani dengan ikhlas agar hikmah postif bisa di dapat, akhirnya, saya kembali memutari alun-laun kota dengan sederet jadwal yang musti terselesaikan malam itu. Hanya lampu-lampu kota yang kerlap-kerlip dengan jejeran kendaraan yang sangat ramai menemani mataku saat itu. Hingga, hanya tersisa satu jadwal lagi – yah Dinner dengannya. saya merapikan segala sesuatunya dan menuju ke restaurat yang ia katakan. Langkah kaki masuk seraya senyumku yang tidak pernah berhenti. Saya menoleh ke kanan dan ke kiri, kemudian mencarinya dari sederetan orang-orang yang lagi kasmaran dan menikmati malam mingguan mereka.

Saya merasakan tangan itu menarikku dengan ketawa dan style-nya yang khas terpancar begitu mempesona. Saya sempat merasa malu, manakala semua orang memperhatikan kami berdua ketika pelukan hangat itu kembali mendarat. Wajarlah, ini memang diluar kewajaran haha. Duduk dengan tangan yang tak pernah berhenti menggenggam. Ah benar-benar membuatku melupakan kelelahan yang tadinya kurasakan. Perbincangan panjang dimulai dengan segala kisah-kisah yang terselip didalamnya. Hanya Tertawa, tertawa, dan tertawa yang menghiasi meja kami saat itu. Tidak pernah kurasakan bahagia duduk bersama seseorang dengan tertawa begitu lama serta malu-malu seperti sepasang kekasih yang baru mengenal cinta. Saya menghabiskan malam itu dengan begitu ceria. Mungkin, ini yang disebut malam minggu.

Malam semakin larut hingga shubuh melahap twilight tanpa ampun. Sekitar jam 3 shubuh, aku dikagetkan oleh dering ponsel yang tepat berada diatas kepalaku. Dengan nada yang masih serak aku berusaha menjawab penggilan itu. Betapa kagetnya ketika mendengar suaranya yang menanyakan keberadaanku. Oh my god! Saya lupa menyusulnya kebandara pagi itu. Beribu maaf aku torehkan padanya dan hanya terdengar hembusan nafas kecil dengan kata “Nggak papa” diujungnya. Lagi dan lagi, dia bercerita jika seandainya cinta terlarang ini bisa terwujud. Saya hanya tersenyum, karena saya tahu itu memang sangat mustahil selama kesamaan itu belum mencapai titik beda yang maksimal. Dan, Ucapan manis dengan penuh haru dari suara halusnya, mengakhiri percakapan pagi itu. Akhirnya, saya mengetahui makna terdalam lagu RAN – Jauh Di Mata Dekat Di Hati. Sungguh, Dering telfonku membuatku tersenyum di pagi hari. Haha

“Dapat telfon shubuh ini :). Beribu Maaf karena tidak bisa mengantar dirimu ke bandara. Saya ketiduran =_=.. Semoga penerbanganmu lancar dan sampai dengan selamat #Amin. Terimakasih sudah datang, walaupun hanya dengan waktu yang singkat. Terimakasih Dinnernya, walaupun singkat tapi berkersan. Semoga semakin sukses #Amin. Colek buat seseorang yang sudah menemani saya beberapa malam ini secara spesial #NiceToSeeYou #KissHug hehe”

Iklan

7 thoughts on “Si Kumis

  1. Rendra berkata:

    Cie kakak cie Punya cinta terlarang hehe 😀
    Pengen punya juga, Pesan satu kak 😀 Soalnya baca tulisan kakak satu ini membuat saya juga ikut bahagia 🙂

Komentar akan muncul setelah dimoderasi. Terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s