Filosofi Sahabat

Punya Sahabat? Pastilah! Siapa lagi yang tidak mempunyai sahabat di dunia ini, karena jikalau memang ada, betapa tidak beruntungnya mereka. Berbicara mengenai sahabat, sudah pasti tidak bisa lepas dari kehidupan yang begitu dekat dengan kita. Kini, saya ingin mengajak kalian untuk berimajinasi. Bayangkan jika diri kalian sedang berada di sebuah ruangan yang setiap sudut atau setiap sisinya dipenuhi dengan cermin besar, tanpa seorangpun yang berada di dekat kalian. Sudah? Jika sudah! Perhatikan diri kalian baik-baik kemudian berfikir sejenak tentang arti diri kalian bagi orang lain (sahabat kalian). Mungkin, ini akan sedikit konyol bagi kalian hingga melahirkan ketawa kecil di bibir anda sembari bertanya,“Memangnya Cermin tahu apa tentang saya? Dia mengenal saya?”

filosofi-sahabat

Jika kalian bersikap seperti itu, maka kalian sudah salah. Jika kalian mulai menelaah diri dan instropeksi, cermin yang ada disekeliling kalian bisa membantu menemukan apa arti diri kalian bagi sahabat. Ibarat cermin ajaib yang ada di dunia disney, diperankan tuan dan putri raja yang selama ini, kita berfikir bahwa semua itu tidak nyata. Mari kita memutar waktu dan mengulang memori dengan orang yang pernah atau sampai saat ini masih menjadi sahabat kalian.

“Apakah sahabat kalian pernah marah terhadap diri kalian lantaran persoalan sepele yang kalian perbuat?”
“Apakah sahabat kalian pernah menangis karena kalian?”
“Apakah sahabat kalian pernah membenci orang karena kalian?”
“Apakah sahabat kalian pernah menjauhi orang-orang disekitarnya karena bujuk-rayu kalian?”
“Apakah sahabat kalian menjadi baik setelah bersahabat dengan kalian?”
“Apakah sahabat kalian menjauhi kalian karena sikap egois yang diri kalian tunjukkan?”
“Apakah sahabat kalian menjadi sering keluar malam dan berhura-hura lantaran ia sering mencontohi kalian yang sering menghabiskan waktu dengan itu semua?”
“Apakah sahabat kalian (Lanjutkan sendiri)?”

Bagaimana? Ada salah satu atau mungkin sebagian besar poin pertanyaan yang saya lontarkan berada pada diri kalian? Banyak hal yang membuat sahabat kalian berubah karena sifat dan tingkah laku kalian, entah itu buruk ataupun baik. Kebaikan ataupun keburukan sahabat kalian, tidak mustahil diperankan dan disebabkan oleh kalian.

Sudah kalian ingat?

Apa sebenarnya filosofi seorang sahabat bagi kalian? Orang yang selalu ada dengan kalian? Orang yang selalu memberikan pengaruh terhadap kalian? Atau tidak berarti sama sekali?.. Saya mempunyai sedikit cerita buat kalian, kalian coba tarik kesimpulan filosofi sahabat yang coba saya jabarkan menurut versi saya, karena saya tahu versi kita terkadang berbeda namun tidak jarang berada pada titik yang sama.

Selama puluhan tahun, si A dan si B bersahabat, kemana-mana selalu sama dan bercanda ria yang tidak pernah ada habisnya. SD sama! SMP Sama! SMA pun sama. Tapi, setelah lulus SMA, mereka berpisah tempat menimbah ilmu. Si A kuliah dikampus 1 dan si B kuliah dikampus 2. Selama beberapa tahun, mereka tidak pernah bertemu lantaran jarak kampus 1 dan kampus 2 sangat jauh. Belum lagi, nomor mereka sama-sama lenyap dan terhapus, alhasil komunikasi menjadi kurang lancar karena hanya bisa dilakukan di sosial media. Si A mempunyai sifat “Tidak mau memulai duluan (menyapa) jika tidak ada yang memancing atau tidak ada yang penting”. Si B mempunyai sifat “selalu menyapa dan ingin mengobrol apa saja”. Suatu malam, percakapan antara Si A dan Si B dimulai, tidak disangka percakapan panjang lebar itu membuat si A menjadi bosan dan mulai perlahan-lahan menghilang dari percakapan karena sifat yang digenggamnya belum hilang. Alhasil, si B menganggap si A sombong dan mulai menjauh dari si A.

Dari cerita diatas, Menurut kalian, Bagaimana kondisi persahabatan mereka? Apakah benar tingkah si B yang menjahui si A? Siapa yang jahat menurut kalian?. Memang benar, jika sahabat atau orang yang paling dekat dengan kita itu, paling cepat mempengaruhi kita dalam kondisi yang baik ataupun buruk. Itulah kemungkin penyebab para psikolog memasukkan lingkungan sekitar (termasuk sahabat) sebagai pembentuk kepribadian individu.

“Apa gunanya sahabat baik jika dia hanya membuat kita terperangkap dalam lubang kemunafikan” | “Buat apa menganggapnya sahabat baik jika dia tidak mau mengerti dengan sikap dan tingkah laku kita” | “Buat apa sahabat baik jika kita sedih tapi dirinya tidak selalu ada untuk kita” | “Apa gunanya sahabat baik jika kerjaan dia hanya berbohong, tidak mau terbuka, dan tidak pernah mau jujur dengan kita” | “Buat apa sahabat baik jika tidak pernah saling membantu satu sama lain”.

Kalian setuju dengan pernyataan diatas? Kalau begitu, jangan sebuat dia sebagai sahabat yang baik!. Memang benar kata orang tua, masih banyak yang belum kita mengerti dalam hidup, termasuk pergaulan dan materi. Sahabat adalah cermin dari diri kalian. Jika sahabat kalian buruk, akan sangat dominan sifat dan tingkah laku buruk yang melekat pada diri kalian, karena sahabat termasuk orang terdekat, yang dapat mempengaruhi kehidupan, dan begitupun sebaliknya. Tapi saya ingin kembali mengajak kalian berfikir. Dalam dunia persahabatan, AKU-KAMU adalah sahabat – aku adalah sahabat dan kamu adalah sahabat. Artinya, pernahkah kalian berfikir apa yang telah kalian lakukan terhadap sahabat adalah sama persis dengan kemauan sahabat kalian?

Contoh:
Kamu ingin sekali dihargai dan dihormati dengan sahabat kamu, tapi apakah kamu sudah hormat dan menghargai sahabatmu? Kamu ingin sahabatmu menghargai sifat sensitifmu terhadap sesuatu, tapi apakah kamu sudah menghargai sifat sensitif dia terhadap sesuatu? Kamu tidak suka dengan perkataan temanmu yang terlalu kasar, tapi apakah kamu sudah cukup bijak menghargai dan memaklumi sikap kerasnya sahabatmu atau bahkan berusaha agar ia dapat merubahnya?

Menurut saya, dalam persahabatan tanpa cekcok atau kesalahan akan terasa hambar, karena dengan adanya kesalahan dan cekcok, bisa membuka kembali mata kita bahwa ternyata saya masih perlu memperbaiki diri pada sifat ini dan akan menghargai sifat dia yang itu. artinya, kita akan sama-sama kembali belajar bahwa tidak ada manusia yang mempunyai sifat dan tingkah laku yang sempurna. Dengan kesalahan dan cekcok jugalah, kita bisa menilai untuk melanjutkan persahabatan atau mengubahnya menjadi status teman. Sahabat dan teman itu beda loh :). Untuk itu, pintar-pintarlah dalam memilh sahabat! Jangan hanya punya kriteria pacar, tapi tidak punya kriteria sahabat!

Hey kalian, kita sama-sama sedang menuju dalam arah masa depan yang lebih baik. Jika ingin masa depanmu menjadi lebih baik, perhatikanlah orang-orang disekelilingmu dan tetap bertingkah baik dan jujur. Berfikirlah, mana orang yang betul-betul kalian BUTUHKAN bukan yang kalian INGINKAN. Carilah seorang teman yang memenuhi kriteria menjadi seorang sahabat, yang akan selalu memberikan sinyal positif dan ranah yang selalu membuat kita menjadi semakin baik, baik, dan lebih baik lagi.

Sampai sini saja untuk hari ini..
Sudah tahu apa yang saya maksud dengan filosofi sahabat?

Iklan

3 thoughts on “Filosofi Sahabat

  1. Husnaeni Sahab berkata:

    Keren banget 🙂 Mengajarkan kita untuk menilai diri sendiri sebelum menilai orang lain. Terkdang memang, kita menutupi kesalahan kita dengan menyalahkan orang lain. Wah musti instropeksi diri lagi nih :). saya berasa ditampar setelah membaca postingan ini.. Salam kenal yah mas sang penceloteh.

Komentar akan muncul setelah dimoderasi. Terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s