Pesan Bapak

Saya ingat sekali bagaimana bapak dulu pernah berpesan. Satu hari menjelang keberangkatan saya ke sebuah kota asing untuk melanjutkan studiku ke jenjang perkuliahan, di salah satu universitas ternama di sebuah kota yang indah, berkat beasiswa yang saya terima.pesan bapak

Pesan bapak tidak banyak ke kamu Rian, hanya selalu ingat berniat di dalam hati ketika melangkah keluar rumah. Niatkan dalam hatimu yang tulus bahwa semoga hari ini di ridhoi tuhan dan ilmu yang di dapatkan dapat bermanfaat bagi orang banyak serta terus memperkuat iman dalam setiap langkahmu”.

Cuma Bapak dan Ibu yang masih setia memanggil nama asli saya dikala para orang tua selalu memanggil anaknya dengan sebutan “Nak”. Walaupun seperti itu, saya tetap suka cara orang tua saya memanggil dengan sebutan nama asli. Sebab dengan begitu, saya merasa lebih dekat dengan mereka bukan sekedar sebagai orang tua, tapi juga sebagai teman rumah yang selalu ada untuk saya.

Tepat saat malam menyapa sang rembulan, saya kembali duduk berdua dengan bapak. Mendengarkan beliau bercokol dengan segelumit kisahnya, membuat saya terkagum atas perjuangannya mendapatkan tiga huruf yang bertambah dibelakang namanya. Saat itu saya hanya mengangguk pertanda iya, tanpa benar-benar memahami apa maksud bapak sebenarnya. Maklum, sebuah hasrat tersembunyi dari seorang remaja yang baru lulus dari SMA. Berkuliah di wilayah orang dan jauh dari orang tua, belajar hidup sendiri dan mandiri tanpa ada aturan-aturan yang membuat dahi selalu berkerut, merupakan petualangan yang sudah tidak sabar saya rasakan.

Jika ditanya, siapa yang paling menggebu-gebu mengenai masalah pendidikan, saya pasti menjawab “Bapak”. Jika ditanya, Siapa yang paling stress ketika melihat anaknya tidak lulus seleksi masuk perguruan tinggi, Saya pasti menjawab “Bapak”. Sungguh beruntung memiliki kedua orang tua seperti mereka yang tidak pernah memaksa saya untuk masuk jurusan dan universitas tertentu.

Seingat saya, Bapak adalah orang yang paling pertama berada didepan ketika anaknya membutuhkan bantuan, apalagi masalah pendidikan. Bapak adalah orang yang paling posesif jika berdebat masalah pendidikan. Mungkin karena Bapak sudah merasakan kenyamanan yang didapatkannya ketika sarjana. Selama SMA, Orang tua saya juga sangat mengontrol bagaimana nilai-nilai saya. Saya masih ingat, ketika peringkat Saya turun dan tidak mendapatkan beasiswa berprestasi, Bapak sungguh marah. Namun satu yang saya akui dari Bapak, beliau hanya menyisipkan kemarahannya melalui sebuah nasehat. Nasehat yang panjang dan sangat memotivasi Saya untuk bangkit.

Itu pelajaran berharga yang saya dapatkan.
Di atas langit, masih ada langit. Jangan lekas berpuas diri.

Semenjak memutuskan untuk kuliah jauh dari rumah dan orang tua, Sempat rasa takut menghampiri dengan gigilnya. Namun tangan hangat Bapak yang selalu ada dibelakang saya, membuat perasaan tenang dan hangat dibuatnya. Setelah diarahkan dengan baik oleh Bapak, Saya kemudian berjanji pada diri sendiri untuk mandiri. bukan dalam artian tidak akan meminta uang saku dari Bapak sama sekali, tetapi saya berusaha sebisa mungkin untuk tidak meminta uang tambahan. Mau seperti apapun keadaan keuangan di akhir bulan, saya tidak akan mengemis dan mengiba untuk meminta uang tambahan, Karena salah satu kesulitan yang saya temui di dunia ini adalah “Sulit Minta Uang”. Dan alhamdulillah, berkat keterampilan dan bakat yang saya miliki dalam instalasi komputer, saya berhasil mendapatkan pekerjaan sampingan dan mendapatkan uang tambahan. Seingat saya, tidak pernah sekalipun saya merengek meminta uang jajan tambahan selama saya kuliah 3.5 tahun. Jika Bapak berinisiatif untuk menambahkan uang jajan tanpa saya minta, itu tidak termasuk dalam hitungan 😀

Dan pesan itu terus diulang-ulang oleh Bapak, hingga saat saya masih (saja) di bangku kuliah, berusaha menggapai cita-cita yang telah saya susun sebelumnya. Percakapan terakhir dengan Bapak terjadi tiga hari yang lalu. Seperti biasa, hal pertama yang beliau tanyakan adalah kabar dan kemudian,

” Bagaimana Rian, Uangnya masih ada?”

Pertanyaan itu sungguh membuat debar-debar di dada. Debar yang rasanya ingin minta uang tambahan. Namun, debar itu selalu saya tepis dan membalas pertanyaan itu dengan nada biasa,

“Tenang Pak, InsyaAllah masih bisa tahan sampai akhir bulan. Bapak gak usah khawatir, Rian selalu kecukupan dengan uang yang bapak berikan”.

Tapi sekarang, saya menjawab

” Tenang Pak, Rian sudah bisa mendapatkan uang sendiri. Bapak gak usah tanya-tanya lagi masalah keuangan Rian. InsyaAllah, Besok Rian akan kirim uang buat bapak disana sebagai pertanda jika Rian juga bisa menghidupi hidup Rian dan bisa menjadi sosok pemimpin seperti Bapak. Doakan saja semoga rezekinya lancar terus. Tenang, Rian tidak akan bertambah kurus disini”

Lalu Bapak hanya tertawa mendengarnya, sambil menyerahkan telepon ke Ibu. Dan seperti biasa pula, Ibu akan tertawa kecil disamping Bapak.

Kemudian percakapan akan berlanjut apakah saya sudah shalat, apakah saya sudah makan, makan dengan lauk apa, bagaimana kuliahnya dan kapan saya pulang. Untungnya, lagi-lagi Bapak dan Ibu jarang sekali bertanya soal kapan saya menikah karena target saya untuk melangsungkan pernikahan adalah tiga puluh tahun. Bagi saya, membahagiakan mereka adalah nomor satu.

Kemudian di akhir percakapan, Bapak selalu menyelipkan sederet pesan.

Ingat selalu yah Rian, berniat di dalam hati ketika melangkah keluar rumah. Niatkan dalam hatimu yang tulus bahwa semoga hari ini di ridhoi tuhan dan ilmu yang di dapatkan dapat bermanfaat bagi orang banyak serta terus memperkuat iman dalam setiap langkahmu”

Bapak sayang, sekarang saya mulai memahami pesan yang engkau berikan. Saya harus berniat sebelum mengerjakan sesuatu agar pekerjaan yang saya lakukan dapat di ridhoi oleh tuhan. Sebagaimana Bapak pernah bilang, segala sesuatu yang di ridhoi tuhan akan selalu berbuah hasil yang baik dan berguna bagi sesama. Dimana, sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang berguna untuk sesama. Dan sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang dimanfaatkan. Serta langkah yang selalu di iringi dengan keimanan, dapat menghindarkan saya dari segala marabahaya yang mengancam. Doakan selalu putra ini agar segera bermanfaat, dengan ilmu yang dipunya. Dan saya selalu berdoa semoga kita selalu berbahagia.

Teruntuk bundaku tersayang, Maafkan belum bisa segera pulang. Tapi dirimu selalu menjadi yang pertama terlantun dalam setiap doa, karena saya mencintaimu.

Sekarang, saya sangat merindukan pesan bapak. Pesan yang tidak pernah lepas terucap dari bibirnya. Karena pesannya itu, saya bisa melihat senyum khas terpancar diwajahnya yang mulai sedikit keriput. Kini, beliau sudah tiada. Sedikit memilukan ketika tak mendapati pesan itu di ponsel genggamku. Aku dan bunda menyanyanginya, tapi aku yakin Tuhan lebih dan lebih menyanyanginya 🙂

Begitu saja, #HappyAgustus Kawandku 🙂

Iklan

10 thoughts on “Pesan Bapak

  1. Andri berkata:

    Wah.. pesan dari seorang bapak yang begitu bermakna :)..
    pesan yang terkadang kita anggap angin lalu namun begitu dalam penyampaian dari cinta seorang ayah.. Nice bray!

Komentar akan muncul setelah dimoderasi. Terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s