Menyentuh Malaikat

Masih ditemani kopi hitam pekat, saya kembali memutar memori. Memori yang begitu indah dengan seorang malaikat. Memori yang sampai sekarang membuat saya takjub dibuatnya, bahkan tak henti-hentinya membuat saya mengucap syukur kepada Sang Kuasa karena diberikan seorang malaikat sepertinya. Sebuah berkah memilikinya, dan jika diberikan izin, saya ingin terus berada dalam dekapannya.

menyentuh Malaikat

Banyak persepsi yang berbeda-beda jika membicarakan tentang malaikat. Masing-masing memiliki cara mengekspresikan wujud seorang malaikat, bahkan agama kita masing-masing mengkisahkannya dengan cara yang berbeda. Ada yang bilang, malaikat memiliki sayap dengan panah yang tidak pernah lepas dari genggamannya. Ada juga yang bilang, malaikat itu ciptaan Sang Kuasa yang terbuat dari Nur atau cahaya. Jika kebanyakan orang menganggap bahwa malaikat itu tak kasat mata, maka lain dengan saya. Saya mempunyai seorang malaikat yang bisa saya sentuh, dengar, dan akan selalu mendekap, ketika kesulitan menerjang. Malaikat yang selalu ada, tanpa harus saya memohon. Dia tahu apa yang ia inginkan dalam hidup, dan dia tidak takut mengejar tujuan-tujuannya. Malaikatku adalah Dahria, Lebih dikenal sebagai istri dari bapak Yunus. Dia adalah ibuku.

Memori itu dimulai ketika senja menyapa begitu lembutnya. Sinar orangenya membuat saya santai sambil menjulurkan kaki panjang-panjang, dan sesekali melihat senyum ibuku yang begitu manis menatap lautan lepas. Parasnya begitu cantik menurutku. Perempuan sempurna dengan sifat apa adanya, yang sering membuat bibirku berucap untuk mencari sosok sepertinya, ketika berkeluarga nanti. Terimakasih telah mengembalikan senyuman itu, Terimakasih sudah menghapus kesedihannya dari kata kehilangan. Kehilangan sosok yang begitu dicintainya hingga akhir hayat, Ayahku. Memang, sepeninggal ayahku, ibu lebih sering merenung dan jarang sekali membuat senyumnya terlahir kembali. Namun waktu terus berlanjut, dan kehidupan akan berjalan terus entah kita mau atau tidak, semuanya akan terjadi. Dan, sepertinya ibuku menyadari itu. Ia kembali memupuk pecahan semangatnya yang terhambur kala itu. Kini, dia kembali menjadi seorang ibu sekaligus ayah bagi kami anak-anaknya. Seorang ibu yang tangguh menurutku.

Bagaikan sebuah layang-layang yang talinya terputus, ia hanya pasrah kepada angin untuk membawanya pergi entah kemana. Sama halnya ibuku, ia terus berpasrah kepada takdir yang telah ditetapkan oleh-Nya. Berdasar atas kekuatan ibuku dalam menjalani hidup, maka kami anak-anaknya berjanji membuat sebuah kejutan yang menurut kami, akan menghancurkan tradisi keluarga. Mungkin terkesan aneh, tapi juga nyata jika dikeluarga kami itu sama sekali tidak pernah merayakan ulang tahun. Entah itu ibu atau ayah bahkan kami anak-anaknya-pun tidak pernah merayakan ulang tahun, padahal tidak ada yang melarang. Bagaikan sebuah tradisi yang dibuat-buat, padahal sama sekali tidak ada larangan dalam perayaannya.

Saat senja menghilang, Mulai dari kue, kado, dan beberapa kejutan, telah disiapkan untuk merayakan ulang tahun ibuku. Kami sempat tertawa melakukan itu semua, sebab bukan keluarga kami banget yang seperti ini. Tapi demi Ibu, kami lakukan semuanya.

Dan, sepertinya waktu mulai bermain-main dengan kami. Jam demi jam, menit demi menit dan detik demi detik. Waktu kala itu terasa lama bagi kami. Hingga kesabaran kami berbuah, kejutan kami berhasil membuat ibu tertawa lepas. Lama sekali kami tidak mendengar tawa khas yang membuat pipi ibu jadi semerah itu. Ah, bahagia dibuatnya. Kado satu per satu diberikan kepada ibu, tapi hanya kado saya yang berbeda. Kado saya hanya secarik kertas berisikan ungkapan kesyukuran memiliki ibu sepertinya.

“Ibuku sayang. Telah datang hari yang menjadi satu dari sekian banyak hari yang tak pernah Allah kurangkan nikmatNya untukmu. Hari yang menjadikan keindahan pribadimu yang salehah semakin bersinar dengan bertambahnya nikmat umur yang Allah berikan”

“Ibuku sayang, ketahuilah bahwa kami mencintaimu karena Allah, dan kami bersyukur karena Allah telah memberikan rasa itu. Maafkanlah kami. Maafkan kami yang tak pernah bisa menjadi penguat bagimu. Yang tak cukup kuat menghiburmu dikala sedih, ataupun memberikan saran dan pengingat yang baik dikalau ibu membutuhkan. Maaf karena kami pernah membentakmu, bahkan pernah melukai perasaanmu. Maafkan segala keterbatasan kami, ibu. Keterbatasan yang selalu membuatmu kecewa dan lemah dalam menjagamu.”

“Ibuku sayang, terimakasih sudah mau menyayangi kami dengan begitu tulusnya kasihmu. Terimakasih sudah merawat dan membesarkan kami sampai saat ini. Terimakasih sudah menjadi ibu yang kuat untuk kami, menjadi ibu sekaligus ayah bagi kami. Banyak sekali yang ingin kami ucap dibibir ini, karena kami tahu, dirimu begitu berharga bagi kami. Terimakasih ya Allah, engkau telah mengirimkan malaikat yang senantiasa mendekap kami sampai saat ini”

Dari kejauhan, nampak bibir ibu bergetar dengan air mata yang perlahan jatuh dipipinya. Momen itu berakhir dengan keadaan haru, yang sekali lagi membuat kami semua tersenyum jika mengingatnya.

Tak berhenti disitu, tepat bulan Maret yang lalu, diriku kembali mengulang hari dalam bertambahnya umur. Lagi-lagi tak kusangka, pelanggaran tradisi itu terulang lagi. Tradisi perayaan ulang tahun, khusus buat diriku yang baru selesai menjalani studi dan hari yang sama mendapatkan pekerjaan pertamaku. Berkah yang luar biasa memiliki keluarga yang begitu menyanyangiku sampai saat ini. Terutama secarik tulisan tangan ibu yang ia sisipkan dalam kado ulang tahunku.

“Ibu, Terimakasih telah menjadi malaikat bagi kami”. Hati siapa yang tak bahagia jika mendengar kalimat ini dari mulut anak ibu sendiri? Kurasakan bahagia bercampur haru, ketika kalian mengucapkan kalimat itu untuk ibu. Mengingat semua orang tua pasti berharap mendengar kalimat tersebut.

Namun, ada pertanyaan menusuk hati ibu. LAYAKkah ibu? Apa ibu LAYAK menerima ucapan itu dari kalian?
Sudahkan  kulakukan TUGASku sebagai seorang ibu?
Sudahkah aku memberi CONTOH yang baik bagimu?
Sudahkah aku meluangkan WAKTUku untuk bermain denganmu?
Sudahkah aku menjadi PENDENGAR yang baik bagimu?
Apakah aku sudah menunjukkan sikap, bahwa aku BANGGA padamu?

Oh anakku sayang, pertanyaan tersebut membuat ibu sadar diri. Maafkan ibumu ini ya sayang, yang penuh dengan kekurangan & kesalahan. Tapi kalian tenang saja, ibu tak akan pernah menyerah pada keadaan. Ibu tak akan pernah menyerah untuk bisa ‘mencuri’ hatimu. Selama ibu hidup, ibu akan terus berjuang untuk menjadi ibu yg terbaik bagimu. Selamat ulang tahun anakku.
Salam sayang, dari ibumu.

Secarik kertas itu membuat saya tersadar akan pengorbanan seorang ibu. Kami yang sudah menganggapnya sempurna, tapi beliau masih berjuang membuktikan bahwa ia bisa sempurna. Terimakasih malaikatku, yang tak henti-hentinya memberikan cinta yang penuh dengan kekuatan. Dirimu adalah hadiah dan berkah terindah yang Tuhan berikan kepadaku. Kami sangat bersyukur bisa memiliki Malaikat yang bisa disentuh.

Jikalau diluaran sana masih ada yang tak menganggap seorang ibu, mungkin ia buta dan tak pernah bersyukur.

ibu

Gambar diedit oleh Sang Penceloteh, sumber gambar;
http://islamicstyle-img.al-habib.info
http://deviantart.com/thanksmom

 Tulisan Ini Menjadi Pemenang Kedua Pada Kontes Cinta Menginspirasi

Iklan

14 thoughts on “Menyentuh Malaikat

  1. joanexlibris berkata:

    Judul-judul postingannya keren-keren dan eye catching kak, makasih juga ya buat postingan link kunci soal fisika marthen kangenan hehe udah pusing nyarinya dari tadi.Thanks banget!

Komentar akan muncul setelah dimoderasi. Terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s