Pesawat Kertas 101 : Surat Terakhir

Aku ingin mengenang sebuah memori, memori yang membuat kita jatuh kedalam perasaan yang sama. Memori yang kuperoleh saat bulan februari menyapa. Menyapa dengan lembut hingga aku terbuai olehnya.

Masih ingatkah? Saat kau tertawa, tawa yang benar-benar khas. Tawa yang selalu membuatku bahagia dalam menjalani hidup. Disana, Aku bisa melihat pipimu yang mulai merekah bersama senja. Disana, Aku juga bisa melihat mata itu. Mata yang senantiasa membuatku jatuh cinta. Mata yang mungil dengan bola mata hitam yang pekat, dan diatasnya dihiasi dengan alis yang begitu tipis hingga membuat lengkungan dengan sendirinya. Ah, Indah. Aku memilih mata itu dibandingkan semua mata yang pernah ku temui. Jangan tanya mengapa sayang! Jatuh cinta, titik.

sddddd

Aku masih ingat, kamu datang dari belakang dan memelukku dengan erat. Tiba-tiba dari belakang terdengar suara yang lantang dan keras. “Tika, masuk”. Dan ternyata itu adalah suara tantemu. Aku masih ingat saat kita harus main kucing-kucingan dengan tantemu demi untuk duduk berdua ditaman tempat aku menuliskan surat ini untukmu.

Masih ingatkah tika, saat aku membelikanmu sebuah dompet berwarna pink saat hari ulang tahunmu. Dompet yang aku beli dari hasil tabunganku. Hingga kini, berkat saran darimu, sampai sekarang diriku masih terus menabung guna membelikanmu setangkai bunga tiap minggunya.

Masih ingatkah, kamu mempertanyakan cintaku sewaktu sekolah dulu. Kenapa kamu harus tanya Tika. Tanpa kukatakan, itu sudah kelihatan dengan tingkah konyol yang kita lakukan tiap harinya. Aku masih ingat, disaat kita bolos sekolah berdua cuman karena mau menikmati hari itu khusus untuk kita berdua, berdua dalam satu ikatan yang membuat layaknya dunia ini milik kita berdua. Berjalan menelusuri senja yang kehangatannya sungguh romantic, hingga kecupanmu mendarat dipipi kananku. Kamu tahu, aku sungguh berdebar dengan sikapmu. Debaran yang terselip dengan kata “Bahagia”. Aku membalasnya dengan kecupan dipipi kirimu. Ah, sentak aku malu saat itu, begitu juga denganmu. Iyakan? Aku melihat pipimu berwarna kemerahan dengan senyum simpul yang kau torehkan dibibirmu. Ah, kamu tersenyum malu.

Memang, perjalanan cinta kita tidak selamanya berkeadaan baik. Adakalanya, cinta seperti sinetron yang membuat kronologi sebuah perjalanan menemui suatu titik permasalahan. Permasalahan yang merupakan proses menuju kedewasaan kita berdua dalam memandang sebuah hubungan. Aku masih ingat, dirimu tak mengajakku ngomong dan terus menjauh dariku tanpa aku tahu permasalahannya. Setelah ditelusuri, ternyata perempuan itu menyampaikan kepadamu, jika aku pergi dengannya malam itu. Sebuah kebohongan yang luar biasa ia ciptakan, hanya untuk mengusik cinta kita. Namun, hal-hal sepele itu selalu cepat berlalu, layaknya sebuah novel yang selalu berakhir bahagia.

Kisah kita kembali terukir, terukir bersama rintik-rintik hujan yang jatuh. Ah, cerita cinta kita memang seperti sinetron yang habis bertengkar kemudian sayang-sayangan lagi. Tapi, satu hal yang perlu kamu tahu, cinta aku bukan sinetron yang selalu ber-episode. Cintaku padamu layaknya air yang mengalir, berjalan dan terus berjalan walaupun hanya melalui celah yang sempit. Dan kalaupun menemui tembok yang buntu, ia masih bisa menembusnya dengan cara meresap.

Terimakasih karena dirimu bisa kucintai. Jujur, walaupun sekarang aku hanya melihatmu sebagai tanah yang masih basah dan selalu berbicara dengan batu nisanmu, aku tetap bahagia. Walaupun orang-orang sekitar pemakaman selalu menganggap aku gila karena bicara sendirian, aku tetap menyisihkan waktu dan memberikan setangkai bunga untuk menemanimu sejenak tiap minggunya. Terimakasih untuk kenangan yang selalu ada. Kenangan yang selalu membuat diriku tersenyum sendiri jika mengingatnya. walaupun memang terkadang tak terasa ada air mata yang membasahi pipiku. Sekali lagi terimakasih.

Akhir-akhir ini aku hanya sedang berpikir, seperti apa nantinya jika aku kembali merasa jatuh cinta lagi. Apakah aku akan berubah menjadi orang yang romantis dan menulis puisi setiap hari. Apakah aku akan berubah menjadi lebih sering diam dan hanya terus memandang kearah senja, Atau akan lebih banyak mencari mata sepertimu?

Kutuliskan surat ini padamu pada secarik kertas yang akan kubuatkan pesawat kertas yang ke-101. Pesawat kertas terakhir yang selalu mengingatkan kisah-kisah kita yang selalu berakhir penuh bahagia.. Semoga dirimu bahagia disana. Salam sayang dari tubuh ini yang sempat menjadi tempat sandaran terakhirmu.

Tulisan Ini Menjadi Pemenang Pertama
Cerita Kampung Fiksi 2015

Iklan

6 thoughts on “Pesawat Kertas 101 : Surat Terakhir

Komentar akan muncul setelah dimoderasi. Terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s