Masih Ingatkah?

Aku ingin mengenang sebuah memori, memori yang membuat kita berdua jatuh ke dalam perasaan yang sama. Memori yang kuperoleh saat bulan februari menyapa. Meyapa dengan lembut hingga aku terbuai olehnya. Kadang, awan tiba-tiba mendung namun tidak hujan, sungguh tidak jelas cuaca saat itu. Namun, satu hal yang aku tahu, perasaanku sudah pas dan klop buatmu. Layaknya lirik dan melodi, yang selalu saling melengkapi dan mengisi. Kuberbalik, dan kudapati jendela kamar yang terbuka lebar. Ah, aku suka jendela yang terbuka seperti ini. Terbuka seperti mengenang memori, saat aku mengendap ke jendela kamarmu dan kubisikkan “I Love You”. Kalimat yang baru pertama kali kudengar saat SD itu, kini mulai aku pahami. Bagaimana denganmu?

masih-ingatkah1

Masih ingatkah? Saat kau tertawa, tawa yang benar-benar khas. Tawa yang selalu membuatku bahagia dalam menjalani hidup. Disana, Aku bisa melihat pipimu yang mulai memerah dan kemudian merekah bersama senja. Ah. Sungguh cantik dirimu. Disana, Aku juga bisa melihat matamu yang selalu sendu, kini mendadak ceria. Kamu tahu, karena mata itu, yang membuatku begitu jatuh cinta padamu. Mata yang mungil dengan bola mata hitam yang sangat pekat dan diatasnya dihiasi dengan alis yang begitu tipis dan membuat lengkungan dengan sendirinya. Ah, Indah. Aku memilih mata itu, dibandingkan semua mata yang pernah kutemui. Jangan tanya mengapa! Jatuh cinta, .. Titik.

Aku masih ingat, kamu datang dari belakang dan memelukku dengan erat. Tiba-tiba terdengar suara yang lantang dan keras. “Tika, masuk” katanya. Dan ternyata, itu adalah tantemu. Yah! aku masih ingat, saat kita harus main kucing-kucingan dengan tantemu demi untuk duduk berdua, disebuah lantai dua dengan suasana yang indah, yang kita ciptakan berdua. Ah, Seru saat itu.

Tika, masih ingatkah?
Kita pergi berdua, berlari menerjang hujan bersama saat pulang sekolah dulu. Lagi-lagi lentiknya bulu matamu, yang membuat bola mata hitammu, masih bisa kulihat dengan jelas. Kita berlari sambil berpegang tangan, dengan satu buah daun pisang yang kupegang untuk melindungi kita. Ah, romantis.

Tika, masih ingatkah?
Saat aku membelikanmu sebuah dompet berwarna pink, saat ulang tahunmu. Dompet yang aku beli dari hasil tabunganku. Itupun, karena saran darimu. Hingga saat ini, diriku masih terus menabung, guna membelikanmu setangkai bunga tiap minggunya.

Masih ingatkah?
Kau mempertanyakan cintaku padamu. Kenapa kamu harus tanya tika?
Tidak dibilangpun, itu sudah nampak dengan tingkah-tingkah konyol yang kita lakukan tiap harinya. Aku masih ingat! disaat kita bolos sekolah berdua cuman gara-gara mau menikmati hari itu khusus untuk kita berdua. Berdua dalam satu ikatan, yang membuat layaknya dunia ini milik kita berdua. Berjalan menikmati senja yang pancarannya sungguh romantis. Hingga, kecupanmu tiba-tiba mendarat di pipi kananku. Kamu tahu, aku sungguh gemetar dengan sikapmu. Gemetar dengan debaran-debaran yang terselip dengan kata “Bahagia”. Aku membalasnya, dengan kecupan di pipi kirimu. Ah, sentak aku malu saat itu, begitu juga denganmu, Iyakan? Aku melihat pipimu kemerahan, dengan senyum simpul yang kau torehkan. Ah, kamu tersenyum malu.

Memang, perjalanan cinta kita tidak selamanya baik. Adakalanya, cinta kita seperti sinetron yang telah dibuat kronologinya. Agar didalam perjalanan cinta kita, menemui suatu titik permasalahan. Masalah yang merupakan proses menuju kedewasaan kita berdua, dalam memandang sebuah hubungan. Aku masih ingat! dirimu tak mau bicara dan terus menjauh dariku, tanpa aku tahu permasalahannya apa?

masih-ingatkah2

Hari itu, cuacanya sangat dingin. Kita sudah sepakat, untuk tetap stay dirumah masing-masing. Menikmati siaran televisi kesayangan kita berdua, sambil ngemil coklat yang kita beli sepulang sekolah. Beberapa saat ketika coklatku sudah mau habis, abangku keluar menggunakan mobil untuk mengajak kencan seorang perempuan yang baru dikenalnya. Telusur demi telusur, ternyata perempuan ini adalah teman jauhmu. Ah, ternyata itu yang membuatmu marah. Ternyata perempuan itu menyampaikan kepadamu, jika aku pergi dengannya malam itu.

Informasi yang kudapat dari Tante Neny itu, aku simpan rapat-rapat dan kujadikan bahan untuk bertanya kembali kepadamu. Aku mengahampirimu di kantin sekolah, kamu melihatku berdiri depan tiang berwarna biru itu, namun kamu tak menoleh. Aku duduk disebelahmu, sambil kunaikan kedua tanganku yang kugenggam diatas meja. Aku memandangmu dan kamu malah menunduk. Aku memegang dagumu dan perlahan kunaikkan keatas agar bisa melihat paras cantikmu. Betapa kagetnya aku, ketika melihat bulir air yang lahir di kelopak matamu dan perlahan membasahi pipimu.

“Hei, kamu kenapa” Tanyaku lembut dengan terheran-heran, namun kamu tetap membisu. Kamu hanya memalingkan wajahmu tanpa mengatakan sepatah katapun.
“Apa karena perempuan itu sayang?” tanyaku lagi

“Jangan panggil aku sayang, aku tidak suka!” jawabmu ketus

“Aku tak tahu harus ngapain! beberapa hari ini aku pusing memikirkan dirimu, Kamu serba tidak jelas padaku. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tapi kamu yang tiba-tiba tidak mau bicara padaku. Malahan, mencampakkanku beberapa hari ini! kamu marah kenapa sayang? Apa karena kabar dari dia?” tanyaku sambil menunjuk ke perempuan yang merupakan teman Tika. Namanya Ila, seorang perempuan asal Gorontalo yang baru pindah di sekolah kami, namun satu SD dengan tika dulu.

Aku memanggil Ila untuk duduk disampingmu, dan aku kembali bertanya dengan pelan dan suara yang datar. “Bener, kamu sama rian tadi malam?”

Bener! Aku naik mobil sama dia, aku sudah cerita kok sama tika” jawab Ila ceplos sambil terus menikmati ice cream yang ada ditangannya.

Kamu kembali ingin menghindariku. Aku menahanmu, meraih tanganmu dan membuatmu duduk kembali didekatku. Aku kembali bertanya sama Ila dengan pelan. “Rian itu botak atau gondrong sepertiku” Ila belum tahu jika aku adalah Rian, dan abangku yang kecan bersamanya (namun memakai namaku) tadi malam.

Dengan ceplosnya ia berbalik badan dan berkata “Botak”.

Lalu, kita saling berhadapan. Belum satu detik berlalu, tawa kita lepas selepas-lepasnya. Hingga semua orang dikantin sekolah berbalik dan melihat kita dengan dahi yang berkerut. Ternyata, Ila salah orang.

* * * * * * 

Kisah kita kembali terukir, terukir bersama rintik-rintik hujan yang jatuh. Ah, cerita cinta kita memang seperti sinetron yang habis bertengkar kemudian sayang-sayangan lagi. Tapi, satu hal yang perlu kamu tahu, cintaku bukan sinetron yang selalu ber-episode . Cintaku padamu seperti air yang mengalir, berjalan dan terus berjalan walaupun hanya melalui celah yang sempit. Dan kalaupun menemui tembok yang buntu, ia masih bisa menembusnya dengan cara meresap.

Terimakasih sudah bisa kucintai Tika,
Terimakasih sudah bisa kurasakan cintamu padaku.
Jujur, walaupun sekarang aku hanya melihatmu sebagai tanah yang masih basah dan selalu berbicara dengan batu nisanmu, aku tetap bahagia. Walaupun orang-orang sekitar pemakaman selalu menganggap aku gila karena bicara sendirian, Aku tidak peduli!
Aku tetap menyisihkan waktu untuk menemanimu setiap minggunya. Terimakasih untuk kenangan yang selalu ada. Kenangan yang selalu membuat diriku tersenyum sendiri jika mengingatnya.

Sekali lagi terimakasih.
Akhir-akhir ini aku jadi berpikir, seperti apa nantinya jika aku kembali merasa jatuh cinta lagi?
Apakah aku akan berubah menjadi orang yang romantis dan menulis puisi setiap hari?
Apakah aku akan berubah menjadi lebih sering diam dan hanya terus memandang kearah senja? Atau, saya akan lebih banyak mencari mata sepertimu?
Ah, Mustahil kudapatkan.

Iklan

15 thoughts on “Masih Ingatkah?

  1. Shyntia T. Gumilang (@SR_Inisial) berkata:

    Ya Ampun, saya Nangis baca ini 😥
    Sungguh kisah yang begitu romantis. awalnya diajak romantis, ketawa tapi ujung-ujungnya bikin Nangis. Lama tidak baca hal seperti ini di blogmu rian.. Ini pengalaman pribadi yah? penyampaiannya begitu dalam sepertinya.. 😥

  2. Muhammad Attar berkata:

    gua pagi pagi udah baper baca ini…..hehe
    ini beneran lo alamin kan??? jalan cerita cinta memang nggk ada yang tau kelanjutannya.
    memang sedih klo kisah cinta ujung ujungnya tragis, putus……….

  3. Bima berkata:

    Gan, ini kisah nyata atau fiksi?
    tapi tidak penting, yangpasti kisah yang gaan rangkai ini luasbiasa menyentuh :” awlnya aku mulai menebak akhir kisahnya pasti akan ada perpisahan, tapi terlalu hanyut dalam buaian kata, saking romantisnya. akhirnya endingnya itu berhasil… berhasil membuat ku kaget!

    it’s so sad to be honest :”
    (pengen cepat-cepat lari liat senja..)
    Thanks gan :”

  4. Santo Ahmad berkata:

    Iya sama kayak apa kata mas Bima, entah ini fiksi atau kisah nyata. Yang pasti ceritanya menyentuh banget.

    Awalnya sih cerita yang pernah aku lalui juga dulu, waktu SD punya temen cewek yang deket, tapi kalo ceritamu berakhir sangat sedih. Entah ini nyata atau gak yang pasti akan sangat kehilangan.

    Sosok tika akan selalu dikenang.

  5. Reyza Zamzamy berkata:

    Postingan ini aku rasa memang kamu tulis dari hati yang terdalam, kerasa banget bapernya soalnya.
    Flashback itu emang hal yang nggak enak sih, soalnya terpaksa kita harus mengingat saat-saat indah bersama si dia.
    Tapi nggak ada salahnya juga kalau kenangan-kenangan indah itu sejenak kita jadikan koreksi dan evaluasi lagi apakah masih pantaskah kita untuk balik lagi sama dia.

    Aku yakin kamu cocok dengan Tika, semoga bisa kembali seperti dulu lagi yaa. Dan aku kayaknya juga yakin, kalau kamu balik lagi nanti, blog ini mungkin juga akan banyak tulisan romantis tentang kamu dan dia.

  6. Akarui Cha berkata:

    Yaaaaaahhhh ending tulisannya sedih. Pantesan dari awal, feel ceritanya agak sendu sendu baper so sweet romantis gimana gitu.

    Btw keren ceritanya. Semangat untuk terus berkarya ya.

    Ga kebayang ada cowok yang pertama kali jatuh cinta semasa sekolah dan sebegini romantisnya. Bapeeerrrr.

  7. erickparamata berkata:

    Duh ternyata perpisahan mengajarkan kedewasaan ya…dan tentunya patah hati yang dalam walaupun dia sudah tiada.

    Jadi kebayang kamu di kelas lagi nerima pelajaran matematika kepikiran terus tuh pasti.

Komentar akan muncul setelah dimoderasi. Terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s