Kebohongan

Cuaca dibulan Juni, mulai tidak bersahabat. Minggu pertama dia begitu cerah, seperti ada sengatan yang selalu menggoda mata untuk terbuka. Minggu kedua, dia begitu dingin, dengan hujan yang setiap saat datang tak terduga. Hujan yang turun dengan derasnya, dibalut dengan angin yang kencang. Hujan yang membawa beribu-ribu tetesan yang jatuh dengan lembutnya. Sungguh bulan yang memberikan kejutan tak terduga. Akankah dirimu memberikan sensasi yang berbeda pada minggu ketiga? Ah, aku sudah tidak sabar menunggunya.

Dalam kondisi seperti ini, alangkah bagusnya untuk mengenang beberapa memori. Memori yang tak terlupakan dengan topik yang menarik. Karena jujur, aku sudah bosan bercerita tentang cinta ataupun kawand-kawand cinta dibaliknya. Nah, bagaimana kalau kita mengenang “kebohongan”.

Kalian pernah berbohong? Kalau aku pernah! Keseringan malah. Dan, jika ditanya kapan pertama kali aku berbohong? maka pertanyaan ini membuatku memutar waktu ke masa lalu. Dulu, waktu masih menginjak sekolah dasar, kekuatan berbohongku sudah mulai kuat dan tidak pernah ketahuan – pikirku. Aku juga berhasil membohongi ibuku sendiri. Yah benar! Saya berhasil berbohong untuk pertamakalinya kepada ibuku sendiri. Kebohongan yang sempat membuatku gemetar dan merasakan takut yang luar biasa hebat.

Semua orang di kampung, mengenal Ibuku sebagai orang yang paling jujur dan disiplin. Setiap hari beliau membuat aturan-aturan yang harus dipatuhi bagi semua anak-anaknya. Salah satu yang paling membekas diingatan adalah, beliau paling tidak suka jika bermain disiang hari (Saat matahari tepat berada diatas kepala). Siang itu, aku hanya duduk diam di dalam rumah bermain mobil-mobilan baru yang dibelikan oleh ayahku. Tapi, hatiku begitu gelisah waktu itu, karena semua teman-temanku lagi bergembira diluaran sana sambil berlari membawa layangan mereka, teriknya matahari-pun tak mampu menghalangi untuk tetap menerbangkan layangan mereka. Boleh dibilang, waktu itu semua anak seusiaku lagi asik-asiknya main layangan, sementara diriku seperti perempuan “terkurung” di dalam rumah dan hanya bermain mobil-mobilan.

Hingga tiba saat itu, saat dimana ibuku tidak ada dirumah. Semua orang pergi kerumah nenek yang jaraknya cukup jauh. Berhubung aku malas untuk ikut, akupun disuruh untuk jaga rumah sambil bermain mobil-mobilan. Sesekali, mengganti kegiatan seperti menonton film kartun untuk menghilangkan kebosanan. Sampai akhirnya, terdengar suara dari luar jendela,

“Rian, . . . Main layangan yuk!” Kata Andri-kawanku sambil memegang dua buah layang-layang yang berwarna-warni.

“Aku dilarang ibuku keluar diatas jam dua belas siang Andri” kataku, sambil menunjuk jam dinding.

“Nggak usah takut, ibumu lagi pergi kan? Ayolah, tidak ada siapa-siapa disini selain kita berdua. Tuh liat, anginnya lagi kencang banget jam segini, pas banget buat mainin layang-layang ini Rian. Ayolah, ibumu pasti tidak tahu, sebentar saja” kata andri membujukku.

Akupun terhasut dengan ajakan Andri. Memang benar, ibuku tidak akan tahu jika aku bermain layangan, karena dia sedang berada diluar. Hingga tibalah pada suatu keputusan yang sangat bulat untuk melanggar perkataan ibuku. Aku pergi menerbangkan layang-layang di lapangan yang luas. Memang ada saja perasaan bahagia yang menghampiri, ketika layang-layang kita hampir menyentuh langit. Ibarat sebuah hiburan disiang terik yang tak henti-hentinya membuatku memandang layangan itu terus-menerus.

Belum cukup sampai disitu, seorang kawan kelas memegang pundakku, “Ian, Rokok” Katanya sambil menyodorkan sebungkus rokok di hadapanku.

“Aku gak ngerokok” Jawabku sambil mendorong rokok itu untuk menjauh.

“Ayolah, jangan jadi banci seperti itu! Ngerokok itu membuat kita bisa jadi orang dewasa. Orang dewasa yang bisa bertindak sewenang-wenang dan sesukamu. Ayolah Rian! Satu batang saja, jangan cuman jadi anak mami yang sukanya tinggal dirumah” Katanya mengejekku sambil tertawa.

Aku sungguh marah kala itu, namun aku juga tidak bisa memungkiri pendapat mereka tentangku karena memang seperti itu yang terlihat dari mata mereka, “Aku bukan anak mami” kataku sambil menunjuknya.

“Ah, kamu itu anak mami, tidak ada bedanya sama perempuan! Kalau memang kamu laki-laki, coba-in satu batang rokok ini” katanya sambil terus mengejekku.

Merokok?
Aku baru saja melakukan kesalahan untuk melanggar perkataan ibu padaku. Apakah aku harus melakukan kesalahan lagi? Rupanya, memang seperti itu. karena pintu kesalahan itu layaknya rangkaian seri. Rangkaian yang jika satu lampunya menyala, maka lampu yang lain akan menyala juga. Yah! melanggar peraturan ibu sama halnya membuka pintu kesalahan pertama yang akan diikuti dengan pintu-pintu kesalahan lainnya. Sungguh Hebat!

Lalu, dengan tangan yang gemetar, aku mengambil rokok itu dan mengisapnya hingga yang tersisa hanyalah puntungnya saja.

(~_~)

Lari, lari dan terus berlari untuk menerbangkan layangan yang beragam bentuk. Tidak hanya itu, Batang demi batang rokok juga aku nikmati. Dan sepertinya, aku mulai mahir dalam menghisapnya. Bahkan mengeluarkan asap rokok itu melalui hidung, aku sudah mengetahuinya saat itu. Tidak terasa, matahari sudah menjelma menjadi senja yang pekat akan warna orangenya. Aku berlari pulang dengan cepatnya.

Betapa Kagetnya aku ketika sampai di rumah, ternyata ibuku sedang berdiri di depan pintu menungguku. Dan, ibu marah kepadaku!

“Dari mana saja kamu?” Tanya ibuku sambil mengerutkan dahinya

Aku langsung gemetar dengan rasa takut yang luar biasa. Namun aku berusaha menjawab dengan santai. “Main bu”

“Main dimana?” Lanjutnya

“Di rumah Andri, Main game bu! Andri punya game baru, jadi dia mengajakku bermain berdua di rumahnya. Aku nggak main panas-panasan kok bu” Tiba-tiba aku mendapati diriku menjadi pembohong profesional.

“Kenapa bau badanmu seperti orang yang habis merokok Rian? Kamu ngerokok nak?” tanya ibu sambil mencium bau badanku.

“Nggak kok bu! Tadi, om Andri datang dan melihat kami bermain game sambil merokok di samping kami. Merokoknya lama loh bu, sampai-sampai asapnya sedikit menempel di badanku” Jawabku Bohong.

“Sudahlah bu, aku mau mandi dulu!” lanjutku sambil berlari dengan rasa takut yang luar biasa.

Sore itu, aku mendapati diriku menjadi seorang pembohong profesional. Aku tidak tahu, apakah kebohongan seperti itu mendapatkan dosa yang sangat besar. Aku berbohong demi kebaikan sore itu. Kebaikan buat ibuku, agar tidak merasa kecewa dan tidak marah kepadaku bahkan memukulku. Aku pikir, Tuhan akan tahu kebohongan mana yang akan mendapat dosa besar dan kecil. Tapi, apakah Tuhan mau memberikan diskon dosa kepadaku, hanya karena kebohonganku mempunyai kebaikan di dalamnya? Mudah-mudahan Tuhan mau.

Sejak saat itu, aku rajin berbohong. Dan sekarang, aku sudah tidak tahu apa saja kebohongan-kebohongan yang sudah kulakukan dalam hidup. Yang pasti, kali ini aku lagi berbohong. Berbohong dengan orang banyak. Kebohongan kecil yang sebenarnya merupakan akar yang berkelanjutan dari kebohongan-kebohongan yang telah kulakukan di masa lalu. Hanya saja, ada yang berbeda saat aku berbohong diwaktu yang sekarang dengan yang dulu.

Aku sangat kecewa sekarang, karena setiap aku berbohong, tidak pernah ada Rasa. Rasa yang membuat tubuh ini bergetar dan merasakan takut luar biasa hebatnya. Rasa yang menghantui setiap harinya dengan dampak-dampak yang akan ditimbulkannya. Aku tidak tahu kenapa rasa itu bisa hilang. Apakah karena aku sudah profesional?

Kamu pernah berbohong?
Kalau kamu pernah berbohong, apakah kamu pernah jadi tempat pembohongan?
Ternyata kita berdua tidak bisa lepas dari kebohongan-kebohongan dalam suatu kehidupan. Sering berbohong dan sering pula dibohongi, Kehidupan yang dipenuhi dengan kebohongan. Hei kamu! Iyah kamu yang lagi baca postingan ini. Kamu juga tak tahukan, kalau sekarang kamu sudah dibohongi dengan cerita masa laluku.

Iklan

12 thoughts on “Kebohongan

  1. Shyntia T. Gumilang (@SR_Inisial) berkata:

    So,,, Seberapa banyak orang yang akan kamu bohongi dengan tulisanmu ini rhyantd? 😀
    Hahahaha kerenlah, setidaknya ada yang menghibur pagi ini. Hati-hati saja, jangan sampai tulisan ini menjadikan kebanyakan orang akan suka membohongi atau dibohongi hahaha

  2. Bibun berkata:

    suka nih tulisannya… walaupun ini serba bohong, tapi banyak yang mirip dengan masa kecil gue, termasuk yang main layangan hahhaah.. Nice Post

  3. Surya Blog berkata:

    Sebelum baca postingan ini, gue sempet lihat beberapa komentar ditulisan ini yang membuat gue semakin penasaran pengen baca nie tulisan. Tapi kejebak juga hahaha #NicePosting, Semoga bisa rajin-rajin lagi ngeblognya Rhyantd, tulisannya enak dibaca loh 🙂

  4. Ner Ardian berkata:

    Rugi saya. Rugi menghabiskan kopi sambil membaca serius tulisan ini sambil sesedikit dibuat teringat kembali dengan masa kecil. saya sangat benci paragraf terakhirnya, apalagi kalimat paling bawah.. Ngeledek banget. Sukses dah dibohongi ini malam =_=

Komentar akan muncul setelah dimoderasi. Terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s